| Sambutan Camat Jabung Taufik Nurahman ( Fest Busu Jaman Biyen ) |
Kepergian seorang pemimpin sering kali baru terasa betapa berharganya ketika ia benar-benar harus melangkah pergi. Itulah yang kini dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Jabung saat melepas sosok camat yang begitu istimewa, Taufik Nurahman.
Beliau bukan sekadar pejabat yang datang dan menjalankan tugas administratif. Perjalanan kariernya yang dimulai dari sekretaris kelurahan (seklur), kemudian lurah, sekretaris kecamatan (sekcam), hingga akhirnya menjadi camat, membentuk beliau sebagai pemimpin yang matang, memahami birokrasi dari bawah, dan yang terpenting—memahami masyarakatnya.
Kurang lebih empat tahun beliau membersamai Jabung. Waktu yang mungkin terasa singkat dalam hitungan kalender, tetapi begitu panjang dalam jejak pengabdian. Sosoknya dikenal sangat rendah hati, hangat, dan tanpa sekat. Tidak ada jarak antara beliau dengan masyarakat. Ia hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai bagian dari warga itu sendiri.
Hampir di setiap kegiatan dan undangan masyarakat, beliau selalu berusaha hadir. Bahkan di tengah kesibukan yang padat, beliau menyempatkan diri untuk datang, selama tidak bersamaan dengan agenda lain. Ada satu kalimat beliau yang begitu membekas: bahwa selama beliau masih mampu berdiri dan belum “tumbang”, beliau akan datang memenuhi undangan masyarakat. Kalimat sederhana, tetapi mencerminkan dedikasi yang luar biasa.
Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan STPDN (kini IPDN) juga tercermin dalam kepemimpinannya yang disiplin, tetapi tetap membumi. Salah satu warisan gagasan beliau yang sangat dirasakan manfaatnya adalah program SIBACA JABUNG (Sinau Bareng Camat Jabung). Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang belajar bersama yang dilaksanakan bergilir di desa-desa se-Kecamatan Jabung.
Melalui SIBACA, berbagai tema strategis diangkat sesuai kebutuhan masyarakat—mulai dari pengembangan UMKM, literasi desa, pemanfaatan aset desa, pencegahan perkawinan anak, hingga edukasi kebijakan seperti PBB-P2 dan Posyandu Terintegrasi. Program ini menjadi bukti bahwa beliau tidak hanya memimpin, tetapi juga menggerakkan dan memberdayakan.
Di bidang kebudayaan pun, beliau menunjukkan dukungan yang nyata. Salah satu momen yang masih hangat dalam ingatan adalah kehadiran beliau saat membuka kegiatan Busu Jaman Biyen bersama Kadisparbud dan Kepala Desa Slamparejo. Kehadiran itu bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk kecintaan terhadap budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Menjelang kepindahannya, beliau juga menyempatkan diri berpamitan melalui grup kesenian Kecamatan Jabung. Sebuah gestur sederhana, namun penuh makna, yang kembali menegaskan kedekatan beliau dengan para pelaku seni dan budaya di wilayah ini. Tidak berlebihan jika kemudian rasa kehilangan datang dari berbagai lapisan masyarakat.
Ungkapan haru dan doa pun mengalir dari banyak pihak. Arif Zulfan menyampaikan, “Selamat bertugas di tempat baru, setiap rumah di Jabung adalah rumah keluarga njenengan. Jangan segan mampir.” Sementara Nasai menuturkan, “Terima kasih atas segala sumbangsihnya, njenengan paling idola, Pak. Mugi selalu dalam limpahan keberkahan dan kesuksesan selalu… amiin.”
Dari Sam Fuad, terselip kehangatan persaudaraan, “Semangat, Pakku… di manapun njenengan berada, kita semua tetap seduluran.” Bahkan dari kelompok tani pun, kenangan tak kalah hangat disampaikan oleh Pak Hendry, “Pak Komandan, kami Kelompok Tani Usaha Maju II Argosari akan selalu rindu menanam bersama panjenengan, hehe… walaupun tidak masuk konteks.” Ucapan yang sederhana, namun justru menggambarkan betapa dekatnya beliau dengan berbagai kalangan.
Saat momen pelepasan dan kenang-kenangan, kata-kata seakan tak lagi mampu mewakili perasaan. Suasana haru tak terbendung—tangis, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf mengalir begitu saja. Bahkan, gelombang rasa kehilangan itu terasa luas di masyarakat. Hampir di setiap story dan status media sosial, terpampang foto beliau disertai ucapan terima kasih dan doa.
Itu semua menjadi bukti bahwa beliau bukan hanya dikenang sebagai camat, tetapi sebagai sosok yang benar-benar hadir di hati masyarakat.
Selamat bertugas di tempat yang baru, Bapak Taufik Nurahman. Jejak pengabdian panjenengan di Jabung akan selalu hidup dan menjadi inspirasi. Terima kasih atas dedikasi, ketulusan, dan kebersamaan yang telah diberikan. Jabung mungkin kehilangan seorang camat, tetapi akan selalu memiliki kenangan tentang seorang pemimpin yang istimewa.

0 Comments:
Posting Komentar