Tradisi dan Kearifan Lokal Membuat Rumah

Foto Istimewa (udsregepcom)


Rumah merupakan tempat berlindung dari panas dan hujan bagi manusia. Selain untuk tempat beristirahat serta berlindung dari cuaca, Rumah oleh manusia juga biasa di gunakan sebagai fungsi sosial, juga sebagai bagian tidak terpisahkan perjalanan hidup manusia yang menempatinya. Rumah bagi masyarakat terutama masyarakat Jawa, mempunyai fungsi yang lebih luas dan menjadi satu tempat sarana menggapai kedamaian.

Rumah merupakan kebutuhan utama mahluk hidup, kebutuhan primer. Dan didalam masyarakat jawa ada aturannya ketika ingin mendirikan sebuah rumah. Aturan ini telah turun temurun diwariskan dari lisan oleh para leluhurnya. Begitu pentingnya sebuah rumah untuk keberlanjutan kehidupan manusia, oleh karena itu dalam membuat rumah tidak asal, ada tata laku yang dari dahulu terus dilakukan oleh sebagaian masyarakat.

Dari awal rencana membangun rumah, tradisi yang berkembang di masyarakat yaitu melaksanakan tradisi leluhur diawali mencari hari baik untuk dimulainya membangun sebuah rumah. Bukan hanya itu, setelah hari baik didapatkan masyarakat dalam mengumpulkan bahan kayu ataupun bamboo juga harus berdasar ketentuan hari baik.

Harapan dari ketentuan yang ada dalam tradisi membangun rumah ini tak lain adalah salah satu usaha untuk mencapai keberkahan dan kebaikan selama proses pembuatan hingga nanti rumah telah dihuni dan digunakan. Diantara tradisi yang ada dalam proses membangun rumah yaitu dimulai dari mencari hari baik, selamatan mendirikan pondasi pertama, menaikan blandar, dan tradisi ketika rumah telah selesai dibangun dan pertama akan ditempati.

Tradisi dan Kearifan ini sangat sarat makna, dan mempunyai filosofi hingga pengharapan serta doa doa kebaikan dari tiap ritualnya. Selain doa doa masyarakat jawa juga biasa menghadirkan bermacam bentuk cawisan atau sesaji yang intinya sebagai pengingat dan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa.

 

A.  Hari Baik

Tradisi awal sebelum membangun rumah, masyarakat bisanya menyiapkan atau mencari hari kapan rumah akan didirikan. Tidak sulit untuk mencari hari baik ini, biasanya masyarakat mempercayakan kepada orang yang telah mengerti dan tahu hitungan jawa. Mereka tinggal minta tolong dihitungkan dan dicarikan hari baik mendirikan rumah.

 

Ada pola dalam mencari hari baik berdasarkan hitungan hari serta pasaran dalam penanggalan Jawa. Biasanya perhitungannya adalah, jumlah neptu dikurangi kelipatan lima. Misal rumah akan didirikan Minggu Pon maka jumlah nilai hari dan neptunya = 7 + 5 = 12. Dikurangi 5 sisa 7 dan dikurangi 5 lagi sisa 2 yang dinamakan Yasa atau akan mendapatkan kejayaan buat penghuninya. Untuk mempermudah pemahaman, berikut saya cantumkan neptu dan pasaran yang biasa digunakan dalam masyarakat.

 

Neptu dan pasaran hari:

Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, sabtu 9, Minggu 5 dan pasaran hari Kliwon 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4.

 

Setelah jumlah neptu dan pasaran ditemukan maka tinggal membaginya seperti hitungan diatas yang nanti akan didapati hasil seperti berikut:


1.   Dinamakan Kerta yang mempunyai arti akan mendapat kekayaan.

2.   Dinamakan Yasa  artinya mendapat kejayaan.

3.   Dinamakan Candi artinya mendapatkan keberuntungan.

4.   Dinamakan Rogoh artinya nantinya akan sering kemasukan Maling.

5.   Dinamakan Sempoyong artinya nantinya akan sering berpindah-pindah rumah.

 

B.  Mendirikan Pondasi

 

Inilah awal dimulainya mendirikan bangunan rumah, dan pondasi pertama yang dipasang dalam tradisi masyarakat jawa selalu diawali dengan selamatan. Biasanya selamatan ini secara sederhana yang dihadiri oleh tuan rumah dan beberapa tetangga serta tukang yang akan mengerjakan pembangunan rumah tersebut. Biasanya selamatan yang dilaksanakan awal buka dan pasang pondasi ini adalah selamatan jenang sengkolo.

Jenang Sengkolo atau jenang merah putih ini mempunyai arti keselamatan, dan dijauhkan dari “sengkolo” bahaya. Bisa dimaknai bila selamatan dalam membuka dan memasang pondasi dengan selamatan jenang sengkolo ini adalah harapan dimudahkan dan dijauhkan dari bahaya selama proses pembangunan rumah.

 

C.  Menaikan Blandar (kuda-kuda)

Setelah bangunan rumah berjalan dan hampir selesai, tahab paling penting adalah menaikan Blandar (kuda-kuda) penopang usuk genting. Tahap ini biasa dilakukan saat proses pembuatan rumah  sudah setengah jadi dengan bangunan tembok yang hampir seluruhnya selesai, tinggal kuda-kuda ini. Sebelum belandar dinaikan, selamatan kembali dilaksanakan. Tradisi ini dikenal dengan selamatan munggah Blandar, berbagai ubo rampe pun disiapkan, yaitu kelapa, seikat padi, pisang satu tundung, bendera merah putih, dan gandok berisikan beras.

 

Setelah didoakan oleh tetua atau sesepuh yang dimandati untuk mendoakan, maka segala macam ubo rampe ini turut dinaikan ke atas bersamaan dengan belandar dengan cara diikat diBelandar. Terletak di tengah belandar dimana tiap sambungan kayu belandar menyatu, disitu ubo rampe tadi diikatkan. Biasanya, hingga rumah sudah jadi seluruhnya uborampe yang masih tertinggal adalah gandok dan padi yang seikat. Adapun makna tiap ubo rampe yang disertakan dalam selamatan munggah blandar itu adalah sebagai berikut.

 

a.   Padi yang diikat

Menggambarkan suatu sumber kekuatan dan kehidupan, maka padi dalam upacara ini dimaknai sebagai doa atau harapan nantinya penghuni rumah selalu diberi kekuatan dan kehidupan yang damai, sejahtera.

 

b.   Gendok dan berisi beras

Gendok yang merupakan wadah beras, dimaknai bahwa rumah yang dibuat ini akan selalu dapat mensejahterakan penghuninya, atau tidak sampai kekurangan pangan dan selalu dalam kemakmuran.

 

c.   Pisang

Pisang yang dalam bahasa jawanya yaitu Gedang mempunyai makna Padang (bahasa Indonesia-Terang), maka pisang dalam upacara munggah blandar ini dimaknai satu pengharapan nantinya membawa suasana terang bagi penghuninya (tidak singup).

 

d.   Kelapa

Biasanya kelapa yang digunakan adalah kelapa Cengkir kuning, yang mempunyai makna kuning sebagai keceriaan. Oleh sebab itu, kelapa disini mempunyai perlambang bahwa nantinya ketika rumah telah digunakan, penghuninya dalam keadaan ceria atau bahagia selalu.

 

e.   Tebu

Tebu sendiri adalah tanaman yang menggandung air yang manis, maka gambaran dari tebu dalam upacara ini tak lain adalah nantinya diharapkan rumah baru ini membawa kebahagiaan dan kemanisan penghuninya, yang juga bisa dimaknai permohonan kebahagian dalam menempati rumah baru ini.

 

f.     Kain warna merah dan putih.

Biasaya kain ini dikibarkan ataupun terkadang ada yang diikatkan langsung pada kayu blandar. Makna dari kain dua warna ini adalah sebagai penolak balak, dan ada yang mengartikan sebagai penyeimbang antara baik dan buruk. Dan harapanya nantinya rumah baru ini selalu bisa memberikan kedamaian bagi penghuninya.


D.  Upacara Masuk Rumah

 Setelah pembangunan rumah finis dan selesai, maka biasanya masyarakat akan melakukan tradisi masuk rumah. Tradisi ini masih terlihat,namun, ada kalanya dipersingkat, dalam arti ada beberapa ritual yang ditiadakan. Salah satunya adalah ritual sapu halaman, yaitu pertama akan memasuki rumah baru, calon penghuni bersama keluarganya membawa sapu lidi akan menyapu halaman rumah. Adapun makna dari sapu lidi ini adalah membuang atau menyingkirkan sebagala bala aatu keburukan disekitar rumah. Prosesi masuk rumah memang ada beberapa alat atau pelengkap, antara lain bantal, Guling, tikar (kloso), siwur dan Pendaringan (wadah beras).

 

Namun, sebelum prosesi memasuki rumah ini, biasanya calon penghuni rumah akan memilih hari baik, dan ini biasanya ditanyakan pada sepuh atau modin yang mengerti hitungan hari baik. Setelah hari baik ketemu, tidak lupa waktu juga ditentukan, semisal senin siang sebelum lohor (tengah hari) harus masuk rumah. Dan juga ada ketentuan masuk rumah dari arah mata angin tertentu yang mana sudah ditentukan saat ditetapkan hari baik tersebut.

 

Dari semua prosesi dan alat yang dibawa ketika masuk rumah tersebut semata sebagai harapan kebaikan dan kelancaran tidak ada halangan nantinya ketika telah digunakan rumah baru tersebut. Bantal dan tikar dimaknai bila nantinya sang penghuni akan kerasan dan nyaman kala menempati rumah. Siwur yang mana alat mengambil air dan Pendaringan (tempat Beras) penggambaran nantinya diharapkan keluarga tidak kekurangan penghidupan.

0 Comments:

Posting Komentar