KECAMATAN JABUNG | KAMPUNG ADAT | DUSUN BUSU MALANG | KABUPATEN MALANG

Breaking

Kampung adat jaman dulu dimana ada busu pada masa lalu tanpa adanya penerangan. dan merasakan keadaan kampung masa itu
Pawai wayang orang di kampung adat
Penampilan para pemain ludruk organik yang pemainya dari warga kampung dan basik mereka bukan pemeran seni
Pertujukan wayang kulit oleh dalang cilik.

Senin, 19 Oktober 2020

Pengabdian Masyarakan Untuk Preman Mengajar Oleh Universitas Negeri Malang

10/19/2020 07:11:00 PM 0
Pengabdian Masyarakan Untuk Preman Mengajar Oleh Universitas Negeri Malang

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemandirian suatu bangsa. Hal ini dikarenakan pendidikan akan berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Indonesia dengan jumlah penduduk yang banyak dan didukung oleh sumber daya alam yang melimpah, nyatanya tidak diikuti oleh tingginya tingkat kesejahteraan rakyatnya. 



Tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan pengabdian masyarakat dengan judul Edukasi dan Pendampingan Materi Pelajaran Dasar Berbasis STEM (Science Technology Engineering Mathematics) untuk Komunitas Preman Mengajar sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi dan Sumber Daya Pendidik di Lembaga Pendidikan Informal.


Kegiatan ini bertempat di Dusun Busu, desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Berlangsung 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 10 dan 17 Oktober 2020. Dusun Busu sendiri berjarak sekitar 22,6 Km dari Universitas Negeri Malang.


Pada tanggal 10 Oktober kegiatan di mulai dengan memberikan pelatihan kewirausahaan dengan membuat mie yang sehat oleh Bapak Agung Witjoro S,Pd M.Kes, Kemudian dilanjutkan dengan motivasi  Peserta oleh kakak mahasiswa. Jumlah peserta yang hadir 30 orang, sebagian besar dari Pengajar Pendamping dari Gubuk Baca Lereng Busu dan juga Preman Mengajar.

Kegiatan Pada tanggal 17 Oktober 2020 di buka dengan penampilan tari dari Gubuk Baca Lereng Busu. Kemudian di lanjutkan pendalaman materi STEM (Science Technology Engineering Mathematics) oleh Ibu Kennis Rozana S.Pd, M.Si selaku Ketua Pengabdian dari Universitas Negeri Malang.



"Rendahnya kesejahteraan rakyat Indonesia disebabkan oleh tidak meratanya akses pendidikan pada beberapa daerah di Indonesia. Berawal dari kondisi pendidikan di Indonesia tersebut, lahirlah komunitas sosial PREMAN MENGAJAR yang peduli dengan hak- hak pendidikan anak- anak di pelosok daerah. Niat mulia PREMAN MENGAJAR untuk membantu anak- anak di pelosok daerah yang tidak mendapat akses pendidikan nyatanya tidak diikuti oleh kemampuan dan keterampilan PREMAN MENGAJAR yang memadai." 



Melalui sistem pendampingan sistematis yang mengkombinasikan keterlibatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang terdiri dari pelatihan teknik dasar mengajar, pendampingan pemahaman materi dasar, teknik evaluasi, teknik belajar menyenangkan dan kontekstual, hingga pendampingan pengembangan minat bakat peserta didik diharapkan peran komunitas PREMAN MENGAJAR yang bergerak di bidang pendidikan dapat tercapai dengan optimal. 


Pada akhirnya, peningkatan pemahaman materi dan keterampilan mengajar dari anggota komunitas PREMAN MENGAJAR ini akan berdampak pada peningkatan akses pendidikan di pelosok daerah yang belum terjangkau.


Tujuan besar dari edukasi dan pendampingan materi pelajaran dasar bagi anggota komunitas PREMAN MENGAJAR ini adalah memberikan edukasi dan pengetahuan bagi anggota komunitas PREMAN MENGAJAR itu sendiri agar dapat meningkatkan taraf kesejahteraan hidupnya, juga untuk membantu anak-anak di daerah pelosok agar tetap dapat menikmati pendidikan yang tepat dari para pendidik yang berkualitas.


Selain itu tujuan lainnya yang ingin dicapai dari pengabdian masyarakat ini adalah pemahaman teknik mendidik dan mengajar sekaligus pemahaman materi bagi anggota PREMAN MENGAJAR agar dapat menjalankan perannya dengan optimal dan menyampaikan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Senin, 14 September 2020

Gembira mengenakan Baju "sampah" di Kirap Alit dusun Busu

9/14/2020 11:16:00 AM 0
Gembira mengenakan Baju "sampah" di Kirap Alit dusun Busu





Kampung AdatHari itu, Minggu pagi suasana di dusun Busu, desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab Malang ini sedikit berbeda. Kondisi pandemic yang mengharuskan masyarakat dan dunia pendidikan “mandek” dan beralih ke media pembelajaran daring, akan tetapi pagi itu, banyak anak-anak dengan riang berlari dan bergurau dengan memakai pakaian seragam sekolah. Seperti bukan hari libur di minggu, anak-anak itu terlihat sangat antusias dan penuh kegembiraan memakai seragam merah putih dan menenteng bendera dengan tongkat kayu, (13/9/2020).

 

Puluhan murid sekolah itu bukannya akan melakukan aktivitas belajar disekolah, tapi mereka berkumpul di Kampung Tretek untuk meramaikan suatu hajat dari muda-mudi penggerak literasi di dusun Busu ini. Sebuah acara Seminar Kampung akan dilaksanakan di Balai Dusun Busu yang lokasinya berada di timur dari masjid Busu. Dengan tegap dengan sembari bergurau puluhan anak-anak berbaju seragam sekolah dasar ini berlatih berbaris dengan masing-masing anak memegang bendera. Dari kejauhan terlihat sangat unik dan mengundang banyak pasang mata warga kampung tretek untuk mendekat melihat apa yang dilakukan adik-adik itu.

 

Matahari semakin beranjak dewasa (tinggi), pukul 8.00 wib sinar cahaya kekuningan mentari itu menambah kegembiraan adik-adik yang masih penuh semangat dengan bendera-bendera itu. Tidak berapa lama, mulai berdatangan adik-adik lainnya, kebanyakan anak-anak perempuan. Kedatangan adik-adik perempuan ini tak kalah menariknya dari anak sekolah dengan bendera merah putih yang sejak awal sudah wira wiri di jalan kampung Tretek. Sorotan-sorotan kagum kepada adik-adik perempuan ini, hal ini lantaran apa yang dikenakan oleh sepuluh (10) adik-adik dari Gubuk Lereng Busu ini, mereka semua mengenakan pakaian warna-warni yang unik, iya pakaian kreasi daur ulang dari sampah plastic.

 

Pemandangan itulah yang menjadikan suasana pagi hari di jalan yang bersih dan berpaving itu meriah, gelak tawa renyah dari masyarakat, candaan adik-adik menambah kebahagiaan suasana yang damai di dusun Busu pagi hari itu. Singkatnya, adik-adik berseragam dan yang berpakaian daur ulang sampah itu nantinya akan melakukan “kirap Alit” yang akan dipandu oleh dua penari Topeng Jabung. Wuaah, sungguh akan menjadikan hari minggu yang sangat berbeda di awal September ini.

 

Cobalah kakak-kakak bayangkan, bagaimana gairah bahagia yang akan di dapatkan adik-adik yang bisa meramaikan dan menyumbangkan sedikit tenaganya untuk dusun tercintanya, hanya bermodal gembira dan tentunya bangun pagi lah.



 

Dan seperti yang telah tertulis di panflet pengumunan yang sudah tersebar di media social Facebook, grup-grup washap, dari mulut ke mulut bahwa pukul 8.30 wib acara Seminar Kampung di mulai. Benar juga, para pendamping adik-adik tadi mulai mengaba-aba mereka berkumpul di ujung jalan di bawah pohon Klengkeng, para pendamping ini semua berseragam dengan tulisan besar di pakainnya “Paguyupan Arek Busu”, wuah benar-benar pencerminan bahwa muda mudi dusun Busu selalu kompak. Bukan hanya mereka yang berserakam PAB, pendamping ini juga ada yang dari mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang loh, setahu kakak, mereka memang telah berapa minggu atau sebulan terakhir ini melakukan KKN (kuliah kerja nyata) di dusun ini, KKN memang istilah jadul buat mahasiswa yang turun kebawah (Turba) dan melakukan pendampingan ataupun membantu masyarakat dengan mengaplikasikan teori pengalaman mereka yang didapatkan selama makan bangku kuliah, itu pemahaman lama ya, nah kalau istilah barunya adalah PMM, kakak saja baru tahu loh PMM itu adalah Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat.

 

 

Dan mereka, 6 mahasiswa yang semua cantik dengan kerudung eeh jilbab ini ternyata adalah penggagas pakaian daur ulang sampah plastic yang di kenakan adik-adik itu loh. Wuah sangat brilian ide itu menurut kakak, setelah Tanya kanan kiri, ternyata konsep pakaian daur ulang ini adalah salah satu cara mbak mahasiswa untuk berkampanye pentingnya menjaga alam dari limbah sampah, khususnya sampah plastic.

 

Wuaah sangat dalam yang dilakukan oleh mahasiswa PMM Baktimu Negri ini, pinginnya kakak menulis lebih panjang tentang apa yang dilakukan mereka di dusun Busu ini, tapi mungkin akan kakak sambung ditulisan yang lain, kakak berfikir apa yang dikampanyekan mahasiswa ini sangat brilian dan memang permasalahan sampah sudah semakin akut di dusun ini, tapi nanti ya ditulisan lain, sekarang kita bergembira dulu saja dengan giat pagi minggu itu.

 

Gak percaya, kakak bahagia banget loh, akhirnya kakak bisa langsung menyaksikan Mbak mahasiswa yg cantik tadi itu sedang merapikan dan mengenakan pakaian daur ulang kepada adik-adik dihalaman rumah Pak De Kus (Abit). Dirumah itu juga sedang duduk Ibu Umul Azizah beserta suaminya di ruang tamu bersama Pak De Abit. Oh iya, Bu Azizah ini yang nantinya akan menjadi narasumber di Seminar Kampung bersama Ibu Wilda Fizriyani yang diadakan di Balai Dusun Busu, hal ini juga lantaran tahu kakak bertanya pada Ratna temen sekolahku yang juga pagi itu menjadi panitia seminar ini.

 

Oh ya, baru tahu kalau di ruang sebelah rumah Pak De Abita ada dua orang yang sedang berganti pakaian tari, kata Ratna lagi, mereka ini adalah kakak-kakak dari Republik Gubuk Jabung. “itu yang brewok ganteng namanya kak Majid, dan satunya itu Kak Faris mereka guru tari adik-adik disini dan Pembina dari Republik Gubuk” gitu kata ratna menjelaskan ke kakak. Tapi tahu gak, waktu ngomong itu muka ratna memerah loh. Bahagia kali ya punya guru tari ganteng-genteng gitu. Oh ya, suasana makin rame di halaman rumah itu, di tambah Pak De abit memberitahu kalau sudah harus jalan ke balai dusun. Adik-adik gembira mendengar itu, mbak Mahasiswa juga terlihat cekatan merapikan da nada yang mulai mengarahkan adik-adik melangkah berkumpul ke ujung jalan.



 

Tak disangka, di Klengkeng sudah berjajar rapi adik-adik berdiri dengan bendera merah putih tadi, dan adik-adik perempuan yang mengenakan pakaian daur ulang sampah ini menyusun barisan di depannya. Penari topeng berpakaian merah tadi langsung melangkah ke depan barisan loh, ooh ternyata menjadi pembuka jalan di kirap alit yang aku baca di panflet acara yang aku dapat di grup fb. Tak berapa lama sih eeh tahunya Ibu pemateri sudah ada disitu bersama Pak De Abit. Dan kakak baru sadar bahwa kirap alit ini bagian dari seminar kampung, karena tahu Ibu pemateri ikut dalam kirap berjalan ke balaidusun. Jadi teringat buku yang pernah kakak baca, dalam buku itu bercerita bahwa dahulu seorang putri ataupun orang penting di kerajaan, kalau dalam lawatan atau bepergian selalu di kawal dengan kirap prajurit begitu.

Entah siapa yang mengkonsep acara ini, yang jelas kakak yakin bahwa kirap adik-adik ini adalah suatu penghargaan dan apresiasi kepada Ibu pemateri, ya di muliakan seperti putri kerajaan yang pernah aku baca itu.

 

Dani teman bermainku dari kampung kidul (selatan) dan cak Kin terlihat jeprat jepret mengabadikan momen adik-adik yang sudah mulai berjalan, sungguh ramai sekali pokonya minggu pagi itu. Banyak masyarakat dan tetangga yang menyaksikan dengan teriak-teriak atau memanggil adik-adik yang sedang kirap. Kakak mengikuti rombongan ini dengan melangkah hati-hati karena jalan paving saat itu seperti tidak muat, dan akhirnya kakak berjalan minggir sekali.

 

Sampai di depan warung Pak Karneli suara dentuman music terdengar keras, dan ternyata itu dari mobil miniature yang diseret. Aku kira mereka ini sedang berkegiatan sendiri dengan mobil dan sound system, istilah terkenalnya sih cek sound. Tapi yang membuat aku semakin kagum dan kaget, ternyata…tahu gak, miniature mobil sebesar setengah dari ukuran gerobak itu juga menjadi bagian pengiring music bagi rombongan kirap.

 

Duuh, aduh pokonya seneng deh lihatnya, kakak tahu kalau mobil kecil itu memang ikut kirap lantaran alunan gamelan dari soundnya ternyata langsung di tangkap oleh kakak penari topeng berpakaian merah itu. Pokonya suasana jadi makin meriah, dan kakak sempat terpaku loh melihat kedua penari itu, sangat gagah..gagah banget seperti pemain pemain film Superhero dari amerika loh. Kedua penari berjalan didepan disusul iringan adik-adik membawa bendera dan diteruskan adik dengan pakaian plastic, rombongan ini mencuri perhatian warga BUsu yang pagi itu banyak beraktifitas di luar. Jalan aspal didepan masjid jadi macet oleh keriangan adik-adik. Cahaya sinar mentari pagi itu menambah jumlah rombongan kirap, bayang bayang adik-adik tercetak jelas di aspal yang mulai panas itu.



 

Ratna, Lisa, Dina dan lainnya semua terlihat sibuk dengan makin dekatnya rombongan kirap yang mengawal ibu pemateri. Dan betul sekali, semua teman yang kesemua memakai kaos bewarna biru dongker dengan gambar peta Busu di punggung ini, banyak berkumpul di depan balai dusun, mereka menyongsong rombongan adik-adik yang sedang kirap.


Oh ya lantaran kakak tidak bermasker dan pagi itu sedang harus ke pasar, maka kakak tidak mengikuti hingga adik-adik dan rombongan kirap masuk ke balai dusun busu. Kakak kembali ke kampung treteg mengambil sepeda motor dan langsung cus ke pasar Jabung. Sampai disini ya ceritaku tentang kegembiraan di dusun Busu pada minggu kemarin, mungkin nanti kalau sempat dan ketemu Pak De abit, kakak akan banyak Tanya tentang acara Seminar Kampung dengan dua narasumber dari kota malang itu. Terima kasih busu, yang minggu kemarin membahagiakan dengan kirap adik-adik berpakaian dari sampah itu. Kakak yakin kok, pakaian dari sampah itu akan menjadi satu pelajaran, bahwa sampah bisa menjadi manfaat atau mudhorot tergantung kita menyikapinya. Mau memanfaatkan atau membuangnya ke sembarang tempat. Terima kasih..


penulis adalah warga busu, yang sekarang sedang menempuh dunia DO dan menjadi Petani Keren

Jumat, 11 September 2020

Seminar Kampung pertama di Busu "Wanita dan Karir"

9/11/2020 02:21:00 PM 0
Seminar Kampung pertama di Busu  "Wanita dan Karir"




Kampung Adat | Seminar Kampung (SK) adalah sebuah gagasan dalam pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang di gagas oleh generasi muda dusun Busu, desa Slamparejo, Kecamatan Jabung bersama para penggiat Republik Gubug. Seminar Kampung ini adalah membuat ruang diskusi dan dialog secara sederhana dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Seminar Kampung akan di adakan rutin setiap sebulan sekali dengan pemateri yang berbeda. Dan dusun Busu akan memulainya dengan Seminar Kampung yang pertama, dengan pembahasanan persoalan wanita dan Karir.

Dalam Seminar Kampung yang pertama ini, akan dihadiri oleh wanita yang akan menjadi narasumber, mereka adalah wanita wanita yang sukses didalam karir pekerjaannya. Dua wanita cantik yang akan menjadi narasumber dalam SK pertama ini adalah Wilda Fizriyani (Jurnalis Harian Republika dan Republika Online) dan Umul Azizah (Area funding dan Transsation Manager Bank Syariah Mandiri area Malang). Dalam SK ini nantinya masyarakat akan mengetahui bagaimana seorang wanita yang dikenal dengan kelembutannya ini bisa meraih karir yang maksimal. 

Dalam kehidupan di masyarakat, Wanita terkadang masih dianggap sebagai mahluk yang lemah, atau bisa dibilang mahluk yang hanya bisa berkarya di rumah saja, atau banyak anggapan wanita hanya mengekor pada laki-laki dan dipandang sebagai mahluk nomer dua ini apakah layak dan berhak dalam meraih cita-cita setingginya, dan untuk mengetahui bagaimana Wanita dalam menyikapinya diera saat ini, mari datang dan saling tukar pemikiran dalam acara SK di balai dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.. MOnggo..

Jumat, 04 September 2020

Pendampingan Pengolahan Susu Segar menjadi Susu Jeli oleh Mahasiswi PMM 16 UMM

9/04/2020 12:29:00 PM 0
 Pendampingan Pengolahan Susu Segar menjadi Susu Jeli oleh Mahasiswi PMM 16 UMM


Kampung Adat | Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang merupakan wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen susu segar di Malang raya. Data dari KAN Jabung dalam satu harinya perolehan susu dari peternak sapi perah sekecamatan Jabung menghasilkan kurang lebih 65 ton susu. Sedangkan masih banyak peternak sapi perah yang tiap harinya menyetor ke pengepul-pengepul selain dari KAN. meskipun begitu, kesejahteraan para peternak sapi perah di wilayah ini jauh dari sejahtera, banyak dari peternak yang pas-pasan atau bahkan merugi.


Kenyataan ini dikarenakan, para peternak belum mempunyai pengetahuan lebih untuk mengolah susu segar dari hasil sapi perah yang dimilikinya, para peternak belum berdaya dari hasil peras susu sapi mereka. Masyarakat peternak sapi hanya menjadi penyetor susu ke koperasi atau pengepul yang ada di wilayah kecamatan Jabung. Dengan melihat kondisi seperti itulah Mahasiswa Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam kegiatan PMM (pengabdian masyarakat oleh mahasiswa) bhaktimu negeri, Kelompok 16 yang terdiri dari beberapa mahasiswa peternakan dan Pendidikan Bahasa Arab tergerak untuk memberikan edukasi pengolahan susu segar pada kamis 13/08/2020.


Kegiatan yang dilaksanakan di balai Dusun Busu Desa Slamparejo, kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini diikuti oleh ibu-ibu PKK diharapkan bisa membantu para peternak sapi perah lebih berdaya dan mempunyai pengetahuan pengolahan susu untuk menambah penghasilan keluarga, bukan hanya menjual susu segar saja namun juga mampu mengolah susu segar menjadi produk yang memiliki nilai jual yang lebih.


Suhasti Nabila, kordinator PMM Universitas Muhamadiyah ini menuturkan bahwa, “tujuan pendampingan ini agar peternak sapi perah tidak hanya menjual susu segar ke mitra saja, akan tetapi dapat mengolah susu menjadi produk lain salah satunya susu jeli. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat mempraktekkan dan memasarkannya secara mandiri”. Karena banyaknya ketergantungan masyarakat dari penghasilan menjual susu segar, namun harga susu yang dijual tidak sebanding dengan tenaga kerja yang digunakan. Dengan demikian pelatihan ini diadakan agar memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, utamanya para peternak sapi perah yang ada di dusun Busu ini”.



Dalam pelatihan yang di ikuti oleh Ibu-ibu PKK ini mahasiswa PMM memberikan edukasi bagaimana mengolah susu segar menjadi berbagai macam produk turunan, yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari penjualan di banding harga susu segar.Gadis berkacamata ini menjelaskan lebih jauh tentang pelatihan pengolahan susu segar menjadi produk turunan dari susu. Salah satunya materi dan edukasi bagaimana tips dan trik dalam mengolah susu.

“karena sebenarnya dalam pengolahan susu tidak dapat diolah secara sembarang. Dalam pengolahan susu terdapat beberapa metode pengolahan diantaranya sterilisasi dan pasteurisasi” terangnya di sela kegiatan pelatihan.

Dikarenakan keterbatasan alat penunjang pengolahan susu yang ada, maka pelatihan oleh Mahasiswa Universitas Muhamadiyah ini difokuskan pengolahan susu segar dengan menggunakan metode pasteurisasi, selain tidak memerlukan banyak alat, pasteurisasi mudah diterapkan. Pasteurisasi sendiri adalah cara mengolah susu dengan suhu tertentu dengan tujuan agar bakteri dan spora yang terkandung dalam susu hilang. dengan pasteurisasi, nutrisi yang terkandung dalam susu akan tetap terjaga.

“Kelemahan dan keunggulan dari susu pasteurisasi ini, susu tidak dapat bertahan lama hanya bisa bertahan sekitar seminggu dengan suhu dingin (kulkas), itu kelemahannya, akan tetapi keunggulan dari olehan ini adalah sehat dan tidak menggunakan bahan berpengawet.” Terang Nabila

Selain edukasi dan praktek bagaimana mengolah susu dengan metode Pasteurisasi Ibu PKK yang mengikuti pelatihan juga mendapatkan pelatihan bagaimana mengemas hasil olah susu tersebut dengan tetap berstandar kesehatan. Pengemasan hasil olah susu dengan metode sterilisasi. Proses pelatihan sterilisasi yang diberikan oleh lima (5) mahasiswa kepada Ibu PKK ini terbilang sangat mudah, yaitu proses penguapan dengan menggunakan alcohol dan air.

“Tujuan sterilisasi kemasan adalah mematikan bakteri yang terdapat dalam kemasan agar susu tidak terkontaminasi dengan bakteri.  Karena kandungan yang tinggi dalam susu akan mudah rusak jika susu sudah terkontaminasi dengan bakteri, selain itu bakteri akan merugikan bagi tubuh terutama pencernaan” jelas Harum, salah satu dari mahasiswa PMM.



Diharapkan dari pelatihan oleh mahasiswa PMM Universitas Muhammadiyah bersama ibu-ibu PKK dusun Busu ini, warga mempunyai pengetahuan dan tahu cara membuat olahan susu segar yang nantinya bisa dijadikan tambahan ekonomi keluarga dari hasil penjualan produk turunan dari susu segar ini.

Dalam pelatihan ini terlihat beberapa perwakilan ibu PKK praktek langsung dari tahap awal hingga akhir yang didampingi oleh mahasiswa PMM dihadapan ibu-ibu peserta pelatihan yang lainnya. Dengan sabra dan telaten para mahasiswa yang kesemuanya berkerudung ini mempraktekan dan memberi contoh kepada peserta pelatihan hingga semua peserta paham dan mengerti dengan benar.

 “Alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan lancar, yang mana diikuti oleh kurang lebih 27 ibu-ibu PKK. Padahal target awal hanya menargetkan 15 saja” ujar Laila Nur Fadila selaku penanggung jawab kegitan ini. 

Tidak berhenti pada pelatihan dan edukasi pengolahan susu jeli, mahasiswa PMM ini juga kedepannya akan membantu dan mendampingi peserta pelatihan ini dalam memasarkan produk susu jeli yang di hasilkan dari pelatihan ini.

“kami harapkan hasil dari pelatihan ini masyarakat dusun Busu bisa dan lebih semangat untuk mengembangkan produksi susu jeli di desanya.  Yang tentunya akan sangat banyak membantu ekonomi keluarga, dan juga kedepannya Busu bisa mempunyai produk unggulan dari susu yang di kelola oleh warganya sendiri. Dimana para kepala keluarga dapat fokus merawat sapi perah, sedangkan ibu PKK yang juga berperan sebagai ibu rumah tangga dapat mengolah susu segar menjadi produk yang mendongkrak pemasukan sehingga tercipta ketahanan keluarga khususnya di masa pandemik” tegas Nur Fadila saat ditemui diakhir acara.

Antusias masyarakat dalam pelatihan ini juga terbilang sangat luar biasa, dari awal hingga akhir pelatihan Ibu-ibu PKK yang hadir dengan membawa anak-anaknya itu sangat aktif dalam mengikuti pelatihan, guyonan dan pertanyaan berkenaan dengan pelatihan pengolahan susu ini bisa dilihat tidak berkurangnya peserta dalam pelatihan dari awal hingga akhir.

“saya berminat untuk memproduksi susu jeli, saya berharap kegiatan ini ada tindak lanjutnya.” Ujar ibu Istiqomah, salah satu ibu PKK yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Senin, 10 Agustus 2020

8/10/2020 04:21:00 AM 0



 "Tanda blarak" (daun kelapa)


Kampung Adat | Satu kearifan lokal dusun Busu, Slamparejo, kec. Jabung. Blarak yang di gapit bambu dan ditancapkan di sekitar lahan ini merupakan satu rambu rambu bahwa tidak boleh ngarit (mencari rumput/ambil rumput) disekitar tanda tersebut.

Meskipun peraturan ini tidak tertulis, namun dikalangan masyarakat dusun Busu, yang kebanyakan adalah petani dan peternak sapi perah sangat mematuhinya.

"Bila sudah ada tanda seperti itu maka tidak akan ada yg mencuri (ngarit) dilahan itu" jelas salah satu warga Busu. Desa Busu punya banyak peraturan adat yg tersirat dan tanda blarak adalah salah satunya. 

Sebagai media siar Dusun Busu, Kampung Adat com akan berusaha membuka ruprik "kearifan Lokal" yang mana sangat erat dan melimpah didaerah Mbusu ini. Semoga dengan satu demi satu mengumpulkannya dan mempublikasikan bisa menjadi salah satu media pendidikan dalam mengenal dan mencintai Dusun Busu ini.

#kearifanlokal #dusunbusu #slamparejo #jabung #malang #jawatimur