https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html


Di tengah gempuran modernisasi yang tak kenal ampun, masih ada mereka yang gigih menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Mbah Mat Darip, seorang perajin bambu berusia 76 tahun dari dusun Busu, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang. Dengan tangan terampilnya, Mbah Darip telah mengukir sejarah melalui karya-karya anyaman bambu yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga penuh nilai.


Mbah Darip, yang telah menggeluti dunia anyaman bambu selama puluhan tahun, dikenal sebagai ahli dalam menciptakan berbagai bentuk alat dapur tradisional. Dari Kalu, dunak, Entik, Keroncongan, tompo, tampeh, bajong, wakul, hingga alat-alat dapur lainnya, semuanya dibuat dengan kecintaan dan dedikasi yang besar. Menggunakan bahan alami seperti bambu dan Penjalin, Mbah Darip tetap setia pada metode tradisional, meskipun banyak perajin lain yang telah beralih menggunakan tali dari plastik.

“Bambu dan Penjalin bukan hanya bahan, tapi juga bagian dari jiwa karya ini,” ujar Mbah Darip dengan mata berbinar. “Setiap anyaman adalah doa, harapan agar yang menggunakan merasakan kehangatan dari alat tradisional ini.”

Keahliannya tidak diragukan lagi, setiap anyaman yang dihasilkan Mbah Darip adalah bukti nyata dari ketekunan dan kecintaannya pada budaya tradisional. Kualitas karyanya yang terjaga dengan baik menjadi bukti bahwa penggunaan bahan alami tidak kalah dari material modern seperti plastik.

Imbas modernisasi dalam penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan namun murah ini lah, menjadikan keahlian para maestro anyaman tradisional semakin terpinggirkan. Semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan alat-alat tradisional ramah lingkungan, beralih ke alat rumah tangga yang murah berbahan plastik.

Di era digital ini, karya-karya tradisional seperti yang dibuat oleh Mbah Darip menjadi semakin langka. Namun, Mbah Darip tidak kehilangan harapan. Beliau percaya bahwa dengan terus memproduksi dan mempertahankan kualitas, anyaman bambu tradisional akan tetap bertahan dan dicintai oleh generasi mendatang.

“Saya berharap, melalui tangan-tangan muda, warisan ini bisa terus hidup. Mereka harus tahu bahwa keindahan dan kegunaan dari anyaman bambu tidak tergantikan,” tambahnya dengan semangat.

Mbah Darip Meski terlihat bersemangat atas keilmuannya akan selalu lestari, namun ketiadaan masyarakat yang menggunakan keahliannya dalam bentuk membeli atau memesan alat-alat tradisional karya beliau, menjadikan sedikit pengetahuan Mbah Darip berkurang, karena telah lama tidak membuat.

https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html

“Saya sudah sedikit lupa, anyaman model apa yang di pakai untuk membuat Entik, ya karena lama tidak membuat Entik” imbuhnya.

Kisah Mbah Mat Darip adalah pengingat bagi kita semua bahwa modernisasi tidak selalu harus mengorbankan warisan budaya. Melalui dedikasi dan cinta pada budaya, warisan leluhur dapat terus hidup dan dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Mbah Darip tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga kelestarian alam. Bambu, sebagai bahan utama karyanya, adalah sumber daya alam yang ramah lingkungan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya untuk mengurangi emisi karbon menjadikan bambu pilihan yang berkelanjutan.

Dengan memilih bambu dan Penjalin sebagai bahan utama karyanya, Mbah Darip secara tidak langsung turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa dalam setiap karya, ada tanggung jawab terhadap alam.

Kisah Mbah Mat Darip tidak hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana seorang individu dapat menginspirasi banyak orang. Melalui karya dan dedikasinya, Mbah Darip telah membuktikan bahwa kecintaan pada budaya dan lingkungan dapat membawa dampak yang besar.


Generasi muda, dengan semua sumber daya dan teknologi yang tersedia, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Mbah Darip. Dengan menggabungkan warisan budaya dengan inovasi, kita dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Mbah Mat Darip, dengan setiap anyaman bambunya, telah menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam. Kisahnya mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap tradisi, ada kearifan yang dapat membawa kita ke masa depan yang lebih baik.



 

https://www.kampungadat.com/2024/07/wiwitan-ritus-pertanian-awal-petik-padi.html
Cok Bakal/ubo rampe dalam prosesi ritus pertanian Wiwitan.


Kehidupan manusia sangat bergantung dengan ketersediaan pangan, dan di Nusantara kebudayaan dalam penyediaan pangan telah diwariskan secara turun temurun. Pengetahuan tradisional dalam merawat lahan dan pengetahuan terhadap jenis bahan pangan beraneka ragam. Dalam tradisi Jawa, kearifan dalam mendapatkan bahan makanan menjadi suatu pengetahuan yang mesti terus ditularkan dan regenerasikan.


Salah satu kearifan pertanian kita yang mengisaratkan rasa Syukur kepada alam, kepada Tuhan sang pemberi kesejahteraan adalah tradisi Wiwitan. Tradisi Wiwitan merupakan awal petani memetik hasil sawah (padi) sebelum panen dilakukan. Dalam proses pemetikan padi, petani mempunyai kearifan tradisi yang telah turun temurun diwariskan. Wiwitan dalam bahasa jawa mempunyai arti awal atau pertama, yang mana sebuah ritual awal petik padi dilakukan dengan diiringi doa Syukur kepada tuhan yang ESA.


Proses Wiwitan dilakukan dengan pertimbangan hari baik, yang mana adalah suatu kearifan dan pengetahuan tradisional yang kini langka. Perhitungan itu ditunjukan pada jumlah tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan (awal/pertama) sebelum panen padi dilakukan. Perhitungan itu disesuaikan dengan jumlah hari pasaran. Semisal panen jatuh pada hari Senin (5) Legi (4) jadi tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan berjumlah sembilan (9) tangkai.


Sebelum prosesi petik tangkai padi, petani dan tukang ujub (modin) melakukan ritual doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia limpahan rejeki tanaman padi. Sebelum doa dimulai Modin menyiapkan Cok Bakal lengkap.


Cok bakal diletakan di pojok sawah diatas pematang sawah (galengan). Setelah itu doa islam jawa dirapalkan. Di dahului doa keselamatan dengan bahasa arap dan dilanjutkan dengan rapal jawa.


Dalam prosesi wiwitan ini, rapal (jawa) merujuk pada rasa sukur dan terimakasih kepada Tuhan yang maha Esa. Setelah itu dan dilanjutkan menyebut Mbah Sri Sedono (Dewi Sri) dan Joko Sedono yang dalam mitos jawa sebagai pembawa benih untuk kehidupan di bumi. Doa rapal yang biasanya dipakai oleh masyarakat antaralain sebagai berikut.


"Bismillahirohmanirohim, ngalkamdulillah hirobilalamin, matur nuwun Gusti kang moho agung, kang sampun peparingan katahe rejeki keselamatan pinaringan ing jagat. Matur nuwun Mbah Sri Sedono, Joko Sedono dipun wiwiti metik rejeki saking Allah Ta'ala. Mandelo rejekine dibeto wangsul dipapak aken lumbung selayur. Mugi mugi damel murakapi keluarga kulo. Allahu amin.


Setelah doa dirapal, petani pemilik lahan atau modin memetik tangkai padi sejumlah hari pasaran. Dengan begitu acara panen bisa dilaksanakan. Tangkai padi yang telah dipetik pertama kali dalam prosesi wiwitan seterusnya dibawah pulang oleh pemilik lahan, dan biasanya dipasang atau ditempelkan ditembok rumah.


Hal ini sebagai harapan bahwa nantinya rejeki akan selalu mengalir ke dalam rumah sang pemilik sawah. Juga sebagai simbol atau pepiling (pengingat) karunia rejeki dari Tuhan yang maha Esa. Dengan ditempel dirumah harapannya ketika pemilik sawah melihat untaian padi ditembok akan selalu mengucap sukur kepada Tuhan yang Esa.

#Rituspertanian #Wiwitan #kearifanlokal #tradisipertanian #pemajuankebudayaan #opk #Busu


 

https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Prosesi injak telur dalam tradisi pernikahan Loro Pangkon

A : “Assalamualaikum.”

B : “Waalaikumsalam. Teja-teja sulaksana, tejane wong anyar katon. Ilang tejane cumlorot saksada lanang, jumleger kari menungsane. Dherek niku sinten namine?”

A : “Nami kula Pak Cukup, yogane Pak Turah. Tegese cukup sing disandang lan dipangan nganti turah-turah.”

B : “Lha sampeyan niki saking pundi pinangkane?”

A : “Kula saking Suralaya Adilinuwih. Sura tegese wani, laya pati, adi bagus, linuwih samubarang kalire. Lajeng panjenengan menika sinten, lan niki dusun pundi?”

B : “Nami kula Darmojulig. Darmo niku temen, Julig niku duta perwakilan, lan niki dusun Karang Kadempel. Tebih saking Suralaya dumugi Karang Kadempel mriki, menapa ingkang sampeyan padosi, Dhik?”

A : “Madosi griyane mbok rondo sing gadhah petetan pitik dara, aran Sekar Jaya Mulya, ingkang dereng rontok sarine.”

B : “Lha nggih niki Dhik, sing sampeyan padosi. Cocok nggih niki.”

A : “Niku jenenge mapan kabeneran, dapur kaleresan.”

B : “Wonten paribasane, tumbu oleh tutup, bantal oleh guling. Tebih saking Suralaya, liwat dalan pundi sampeyan wau, Dhik?

Percakapan diatas adalah, sepotong percakapan yang dilakukan pada prosesi temu dalam pernikahan Jawa, yang mana dewasa ini, sangat jarang kita temui di prosesi pernikan di sekitar kita. Tradisi yang sangat elok untuk terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan objek pemajuan kebbudayaan seperti yang telah di amanahkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 tahun 2017.  Percakapan diatas biasanya disebut Loro Pangkon. Namun begitu, ada beberapa pendapat bahwa Loro Pangkon adalah seluruh jalannya ritual dalam pernikahan itu yang disebut Loro Pangkon. Di dalam tulisan ini, dan dengan minimnya pengetahuan penulis berupaya untuk mencoba mengemukakan norma-norma tradisi yang ada dalam tradisi Loro Pangkon, berdasar obrolan dengan beberapa sesepuh di dusun Busu, dan sesepuh di Jabung.

Perjumpaan penulis dengan Tradisi Loro Pangkon ini, saat menetap dan tinggal di di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. saat itu, pertama kali penulis merasa takjub dan semangat dalam mengikuti pernikahan, dikarenakan pernikahan kawan yaitu Kholis pada bulan desember tahun 2019 yang lalu dilangsungkan dengan membawakan adat tradisi jawa dengan Loro Pangkon.

Meski tradisi ini masih banyak dilestarikan di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur, namun saat ini, sepengetahuan penulis tradisi Loro Pangkon sudah tidak banyak dipakai dalam resepsi pernikahan di masyarakat Malang, terutama di perkotaan.

Selain prosesi pernikahan menjadi Panjang, biaya untuk melangsungkan prosesi Tradisi Loro Pangkon ini akan mahal ditanggung keluarga mempelai. Namun berbeda bila resepsi pernikahan ini mendapat dukungan warga tetangga atau kerabat, maka ritual Loro Pangkon akan berjalan sangat sakral dan membawa kebahagiaan bagi mempelai dan keluarga karena masyarakat akan ikut andil membantu kelancaran prosesi Loro Pangkon ini.

Meski mulai banyak di tinggalkan, untuk di ketahui bahwa Tradisi ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam dan sarat akan nilai-nilai budaya Jawa, yang bisa menjadi pembelajaran norma-norma Bagai kita, maupun generasi muda saat ini.


https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Cak Min memegang Replika Ayam Jago dalam tradisi Loro Pangkon


Arti dan Makna Loro Pangkon

Loro Pangkon berasal dari kata "loro" yang berarti dua dan "pangkon" yang berarti pangkuan. Jadi, Loro Pangkon dapat diartikan sebagai dua pangkuan. Makna filosofisnya adalah bahwa dalam pernikahan Jawa, kedua mempelai akan duduk di dua pangkuan yang berbeda, yaitu pangkuan orang tua pengantin pria dan pangkuan orang tua pengantin wanita. Hal ini melambangkan bahwa kedua mempelai telah meninggalkan pangkuan orang tuanya dan kini memulai kehidupan baru sebagai keluarga yang mandiri.

Berikut adalah beberapa proses pelaksanaan tradisi Loro Pangkon yang saya dapati dalam pengamatan pernikahan sahabat saya Kholis.

1.      Petuk Jago/ Seserahan. Disini para pengiring yang membawa berbagai barang pecah belah, hingga bantal dan tikar, akan di sambut oleh perwakilan tuan rumah, atau perwakilan mempelai pria atau Perempuan, tergantung prosesi ini dilaksanakan dari kedua pihak. Disinilah yang menarik, dan akan menjadi tontonan warga, karena ada percakan Loro Pangkon Dimana dengan membawakan sebuah patung Ayam Jago. Prosesi ini sebagai sarat awal kedua mempelai untuk melangkah ke proses selanjutnya.

   2.  Upacara Siraman: Pengantin pria dan wanita dimandikan dengan air yang dicampur dengan                   berbagai     macam bunga dan daun-daunan. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri                   dari segala kotoran     dan kesialan sebelum memasuki kehidupan pernikahan.

3. Midodareni: Pada malam hari sebelum akad nikah, pengantin pria dan wanita dipisahkan dan diasingkan di dua tempat yang berbeda. Pengantin pria biasanya diasingkan di rumah kerabat dekat, sedangkan pengantin wanita diasingkan di rumah orang tuanya. Upacara Midodareni bertujuan untuk memberikan waktu bagi kedua mempelai untuk merenungkan diri dan mempersiapkan diri secara mental sebelum menikah.

4. Akad Nikah: Pada hari akad nikah, pengantin pria dijemput oleh keluarga pengantin wanita dan diarak menuju tempat akad nikah. Sesampainya di tempat akad nikah, pengantin pria akan duduk di pangkuan ayah pengantin wanita dan mengucapkan ijab kabul. Setelah ijab kabul, pengantin pria dan wanita resmi menjadi suami istri.

5. Resepsi Pernikahan: Setelah akad nikah, biasanya diadakan resepsi pernikahan untuk merayakan pernikahan kedua mempelai. Resepsi pernikahan biasanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman kedua mempelai.

Tradisi Loro Pangkon mengandung beberapa nilai-nilai budaya Jawa yang penting, antara lain:

  • Penghormatan kepada orang tua: Tradisi ini menunjukkan rasa hormat kepada orang tua kedua mempelai yang telah membesarkan dan mendidik mereka.
  • Mengenal makna Norma pernikahan: Selain mempe
  • Kesucian pernikahan: Tradisi ini melambangkan kesucian pernikahan dan tekad kedua mempelai untuk menjalani kehidupan pernikahan dengan penuh tanggung jawab.
  • Keseimbangan: Tradisi ini melambangkan keseimbangan antara peran laki-laki dan perempuan dalam pernikahan.
  • Gotong royong: Tradisi ini menunjukkan nilai gotong royong dalam masyarakat Jawa, di mana keluarga dan kerabat bahu-membahu membantu pelaksanaan pernikahan.
https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Kadang, peran mereka tidak tampak (tak mau tampak) tapi dari mereka sebuah kesuksesan ritual Loro Pangkon berjalan dengan semestinya...


Yang menarik dari tradisi ini adalah Barang bawaan/Seserahan yang dibawa oleh para pengiring mempelai, dalam pengamatan penulis barang bawaan ini  menguatkan apa yang telah di wedar pada Loro Pangkon diawal pembuka prosesi pernikahan ini.  Barang bawaan ini bukan hanya sekadar benda, tetapi memiliki arti dan makna tertentu yang berkaitan dengan harapan dan doa bagi kehidupan pernikahan yang akan dijalani. Berikut beberapa contoh barang bawaan dalam tradisi Loro Pangkon:

  • Jarang Goyang: Sebuah kipas yang terbuat dari bulu ayam atau merak. Simbol ini melambangkan kesejukan dan ketenangan dalam rumah tangga.
  • Payung: Melambangkan perlindungan bagi keluarga dari segala rintangan dan bahaya.
  • Jodang dan Ongkek: Wadah yang berisi berbagai macam peralatan dapur. Simbol ini melambangkan kesiapan pengantin wanita untuk mengurus rumah tangga.
  • Bantal dan Guling: Melambangkan keharmonisan dan kebersamaan dalam pernikahan.
  • Uang: Simbol kemakmuran dan kecukupan dalam kehidupan pernikahan.
  • Makanan Tradisional: Biasanya berupa jajanan pasar dan kue-kue tradisional yang melambangkan kesuburan dan kelimpahan.
  • Cok Bakal/Ubo Rampe: Sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan dan doa restu.
  • Hasil Bumi: Berbagai macam hasil bumi seperti padi, jagung, dan buah-buahan melambangkan kesuburan dan kelimpahan rezeki.
  • Uang Sumbangan: Simbol gotong royong dan kepedulian keluarga dalam membantu kelancaran pernikahan.

Tradisi Loro Pangkon saat ini sudah jarang dilakukan dalam pernikahan-pernikahan di wilayah perkotaan, meski masih ada yang melestarikan dengan menampilkan tradisi ini oleh beberapa masyarakat, terutama di pedesaan. Namun, dengan modernisasi dan globalisasi, tradisi ini mulai mengalami beberapa perubahan. Diantara bentuk perubahan tradisi ini bis akita lihat dalam Upacara Midodareni yang dulunya bisa berlangsung selama beberapa hari, kini hanya dilakukan selama beberapa jam. Pengantin Jawa saat ini tidak lagi selalu menggunakan busana pengantin tradisional, tetapi juga menggunakan busana modern seperti gaun pengantin dan jas.Beberapa prosesi pernikahan Jawa yang rumit dan memakan waktu, seperti prosesi panggih pengantin, saat ini mulai disederhanakan.

Meskipun mengalami beberapa perubahan, tradisi Loro Pangkon tetap menjadi salah satu bagian penting dalam budaya pernikahan Jawa. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga agar tidak punah. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga warisan budaya leluhur dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan pernikahan.

 

 




Saat ini komputer / laptop adalah perangkat wajib yang hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sama halnya seperti handphone. Namun tidak semua orang yang memiliki handphone bisa menggunakan komputer. Tetapi yang bisa komputer sudah pasti bisa menggunakan handphone.


Berikut ini adalah cara mudah bagaimana agar kita bisa komputer. Dengan menguasai cara ini maka kita akan percaya diri ketika ada masalah yang harus di selesaikan dengan komputer.


Jika Anda sudah terbiasa menggunakan komputer atau laptop silahkan skip artikel ini. 


Tetapi jika Anda benar-benar pemula atau belum pernah menggunakan komputer, atau sudah menggunakan komputer tetapi masih kurang percaya diri. Silahkan melanjutkan membaca.


Bagi yang belum bekerja, cara ini akan membantu mendapatkan pekerjaan lebih mudah. Mulai dari pertokoan, perkantoran, pemerintahan, perusahaan kecil sampai perusahaan besar memerlukan orang yang bisa mengoperasikan komputer.


Berikut ini adalah caranya:


1. Microsoft Word.

2. Microsoft Excel.





Cukup 2 kemampuan ini saja. Karena 2 skill ini adalah sebuah pondasi yang harus di miliki agar bisa komputer. Tanpa perlu berlama-lama. Mari kita bahas satu per satu.


1. Microsoft Word

Microsoft Word adalah aplikasi pada komputer yang berfungsi untuk membuat dokumen, tulisan dan sebagainya. Intinya adalah aplikasi yang berhubungan dengan teks.

Cara memulainya adalah kuasai membuat undangan resmi, kemudian print dalam bentuk kertas.


2. Microsoft Excel

Berbeda dengan microsoft word, aplikasi ini berhubungan dengan angka.

Cara memulainya adalah pelajari menggunakan rumus dasar seperti SUM, IF, SUMIFS, VLOOKUP dan minimal dapat memahami PivotTable.


Kedua cara di atas merupakan inti dari bisa komputer. Karena dengan bisa 2 hal itu saja nantinya kita akan dapat dengan mudah memahami aplikasi-aplikasi lainnya di komputer. 


Cara ini bisa berbeda dengan yang di ajarkan oleh orang lain, karena ini merupakan pendapat pribadi. Sebagai orang yang menghabiskan rata rata 6 jam perhari selama kurang lebih 8 tahun bekerja di depan layar komputer, 2 skill inilah yang menjadi dasar untuk bisa komputer.


Bagi yang sudah bekerja, coba lihat atasan atau pemimpin terbaik di tempat kerja saat ini. Mereka adalah orang yang dapat membaca angka dan data dengan baik di bandingkan dengan lainnya. Mereka memiliki kemampuan berpikir kritis di bandingkan dengan yang lain. Dan biasanya mereka Jago dalam Microsoft Excel.


Sekarang coba tanyakan pada diri sendiri.

"Apakah aku sudah bisa membuat undangan resmi dan mencetaknya dalam bentuk kertas?"

"Apakah aku sudah paham cara menggunakan rumus dan memahami pivotable?"


Jika jawabannya sudah. Selamat, Anda sudah "Bisa Komputer".

Dan jika jawabannya ada yang belum, maka sebaliknya, terkadang masih belum percaya diri menjawab "Aku Bisa Komputer".


Sekian tips sederhana ini.


Terimakasih telah membaca.
Bila ada pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar.





Beberapa waktu lalu di media sosial banyak terpampang dan mudah di temui foto hitam putih presiden  RI Sukarno, dalam foto tersebut terlihat Presiden Republik Indonesia yang pertama ini, sedang duduk di pinggiran petak sawah, dan di kelilingi oleh masyarakat petani. tidak ada keterangan lokasi pengambilan foto hanya tertulis Statmen presiden Sukarno, “Sejak kapan kalian tahu bahwa Petani itu singkatan  "Penyangga Tatanan Negara Indonesia". bertahunkan 1952, di mana umur kemerdekaan Republik ini masih seumur jagung.

Akronim atau penamaan Petani yang di katakan oleh presiden Sukarno di masa lalu. Benar atau tidaknya Petani yang memang kepanjangan dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia, memang perlu riset yang lebih mendalam. Di luar itu, bila dihubungkan dengan kedekatan Pak Karno kepada wong alit (petani) sangat dimungkinkan, hal ini dilihat dengan  Pak Karno sebagai penggagas Marhaenisme yang diyakini terispirasi oleh seorang petani yang bernama Aen di tahun 1926-an.

Dengan kenyataan seperti itu, bagaimana peran besar profesi petani bagi keberlangsungan kehidupan di negara ini, terlebih bangsa Indonesia wilayahnya sebagian besar adalah lahan pertanian. Oleh karena itulah, bangsa Indonesia dimasa pemerintahan Sukarno hingga Soeharto begitu besar perhatiannya pada pertanian dan petani itu sendiri.

https://www.kampungadat.com/2024/06/petani-penyangga-tatanan-negara.html
Mata uang Kuno koleksi Gandok Memori Busu
Dari akronim yang di lontarkan Pak Sukarno hingga program Klompen Capir Soeharto di tahun 1980-an. Bukti bahwa peran serta dunia pertanian di negara ini sangat fital dan akhirnya mendapat perhatian oleh penggede pemerintah dan negara dengan berbagai program ataupun pujian kepada kaum petani.

Sebelum negara ini menampilkan sosok pahlawan ditiap mata uang sebagai alat tukar syah bangsa Indonesia, gambaran atau potret petani sudah mendapat apresiasi besar dengan dijadikan gambar di mata uang ditahun 1960-an.

Mata uang Indonesia berwarna merah bergambar presiden Sukarno disatu sisinya bergambar petani penggarap. Mata uang ini terlihat di sisi bawah gambar Soekarno bertuliskan Swiss sebagai penanda tempat produksi mata uang bernominal 100 rupiah ini.


https://www.kampungadat.com/2024/06/petani-penyangga-tatanan-negara.html
Mata uang Kuno koleksi Gandok Memori Busu

Melihat ini penulis berkeyakinan kuat bahwa, bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi perjuangan dan pengabdian Petani pada masa itu, yang era saat ini semakin terpinggirkan. Berbagai Problematika yang di alami Petani di masa ini begitu beragam, hilangnya lahan pertanian, intimidasi pada petani oleh perusahaan atau lembaga negara, dipandang rendahnya profesi sebagai petani, bahkan ketidak perpihakan pemerintah pada petani yang menyebabkan semakin merosotnya pengetahuan dan kebanggaan masyarakat untuk memilih profesi menjadi petani.

Mata uang ini adalah bukti bahwa negara Indonesia pernah begitu bangga dan menjadikan Petani sebagai "pahlawan" dalam Penyangga Tatanan Negara Indonesia.

#matauangRI #petanikeren #soekarno #tahun1960-an #Adatistiadat #normaadat #kearifanlokal #Pemajuankebudayaan #OPK