Kabupaten Malang tidak pernah kehabisan cerita tentang ulama-ulama besar yang membawa berkah bagi masyarakat. Salah satu sosok yang paling membekas di hati masyarakat Malang Raya, khususnya di wilayah Jabung, adalah Kyai Haji Ahmad Badri Rofii.

Beliau dikenal bukan hanya sebagai seorang pendidik agama, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial bagi ribuan jamaahnya. Berikut adalah rekam jejak perjuangan, karomah, dan warisan spiritual yang ditinggalkan oleh sang ulama.

Profil dan Sanad Keilmuan KH Ahmad Badri Rofii

https://www.kampungadat.com/2026/05/biografi-kh-ahmad-badri-rofii-ulama-kharismatik-pendiri-ponpes-miftahul-ulum-jabung.html

KH Ahmad Badri Rofii


KH Ahmad Badri Rofii merupakan sosok ulama kharismatik pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ulum yang terletak di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Keilmuan beliau yang mendalam tidak lepas dari riwayat pendidikannya yang berguru kepada ulama-ulama besar Nusantara.

Beberapa guru utama beliau di antaranya adalah:

  • KH Muhammad Yahya – Pengasuh Pondok Pesantren Gading, Malang.

  • KH Ma'shum – Ulama legendaris dari Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Berbekal sanad keilmuan yang kuat tersebut, KH Ahmad Badri Rofii kembali ke masyarakat untuk berdakwah dan mendirikan pesantren yang hingga kini menjadi benteng moral bagi para santri.

Fenomena "Ngaji Jum'at" dan Pasar Dadakan

Hingga wafatnya pada tahun 2014, KH Ahmad Badri Rofii adalah figur yang sangat dicintai oleh para santri dan jamaahnya. Salah satu warisan terbesar yang paling ikonik dari beliau adalah majelis ta'lim rutin yang diadakan setiap hari Jumat pagi, atau yang akrab disebut warga sebagai "Ngaji Jum'at".

Luar biasanya, setiap pekan majelis ini konsisten dihadiri oleh kurang lebih 3.000 jamaah. Kerumunan massa yang begitu besar ini pada akhirnya melahirkan fenomena sosial-ekonomi yang unik:

Munculnya Pasar Jum'at:  Kehadiran ribuan jamaah memicu munculnya pasar dadakan di sekitar lokasi pengajian. Pasar ini menjual berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari sembako, kuliner, minuman, hingga peralatan rumah tangga. Kegiatan ini secara tidak langsung berhasil mendongkrak ekonomi warga lokal.

Setelah beliau berpulang, estafet kepemimpinan pengajian dan pengasuhan pesantren kini diteruskan dengan baik oleh putra beliau, KH. Muhammad Najib Badri.

Panduan Ziarah Makam KH Ahmad Badri Rofii

Kini, makam KH Ahmad Badri Rofii telah menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat yang ingin ngalap berkah (mengharap barokah) dari wali Allah.

Bagi Anda yang berencana untuk melakukan ziarah, berikut adalah informasi lokasi lengkapnya:

Detail LokasiKeterangan
Posisi MakamSebelah timur Masjid Jami' Al-Falah
DesaSukolilo
KecamatanJabung
KabupatenMalang, Jawa Timur

Kesimpulan & Ajakan Ziarah

KH Ahmad Badri Rofii adalah bukti nyata bagaimana seorang ulama mampu menyatukan urusan akhirat (dakwah) dan urusan dunia (ekonomi umat) dalam satu harmoni. Mari kita luangkan waktu untuk berziarah, mendoakan, sekaligus meneladani perjuangan spiritual beliau di Desa Sukolilo, Jabung.

KH. Nur Salim merupakan salah satu ulama kharismatik asal Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat. Sosok beliau dikenal sederhana, teduh, dan memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan Allah SWT. Di kalangan masyarakat, beliau akrab dipanggil Gus Nur Salim.

KH. Nur Salim lahir pada tahun 1940 di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan religius dan mendapatkan pendidikan agama langsung dari orang tua serta para ulama besar di Jawa Timur. Ketekunan beliau dalam menuntut ilmu membuatnya dikenal sebagai pribadi alim yang rendah hati dan penuh kasih kepada sesama.

https://www.kampungadat.com/2026/05/kh-nur-salim-jabung-malang-sosok-ulama-kharismatik-dan-pendiri-pondok-pesantren-sunan-kalijogo-jabung-malang.html
Gus Miek & Gus Nur Salim Foto Restorasi

Dalam perjalanan dakwahnya, KH. Nur Salim mendirikan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga di wilayah Sukolilo, Jabung. Pesantren tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan Islam dan kegiatan dakwah yang banyak didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Melalui pengajian, majelis shalawat, dan pembacaan Surat Al-Waqi’ah, beliau mengajarkan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang ikhlas.

KH. Nur Salim dikenal memiliki cara dakwah yang lembut dan menenangkan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai kesederhanaan, penghormatan kepada orang tua, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Banyak jamaah merasa mendapatkan ketenangan hati setiap kali mengikuti majelis beliau.

Salah satu nasihat beliau yang paling terkenal adalah ungkapan:

“Wali iku ora owal, ora lali.”

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa seorang wali adalah orang yang tidak pernah jauh dan tidak pernah lupa kepada Allah SWT. Pesan sederhana itu hingga kini masih sering dikenang dan menjadi pelajaran spiritual bagi masyarakat.

https://www.kampungadat.com/2026/05/kh-nur-salim-jabung-malang-sosok-ulama-kharismatik-dan-pendiri-pondok-pesantren-sunan-kalijogo-jabung-malang.html
Keluarga KH. Nur Salim Restorasi

KH. Nur Salim wafat pada tanggal 3 Maret 1999. Meski telah berpulang, ajaran, keteladanan, dan perjuangan dakwah beliau tetap hidup di tengah masyarakat. Hingga sekarang, nama KH. Nur Salim Jabung masih dikenang sebagai ulama sederhana yang membawa keteduhan dan menjadi panutan umat.


tulisan dan foto ini di kutip dari : https://jurnaba.co/

Lapak di salah satu warga yang menjual kuliner jaman biyen

Kegiatan budaya bertajuk “Busu Jaman Biyen” resmi berakhir dengan penuh kesan mendalam dan antusiasme luar biasa dari masyarakat. Diselenggarakan selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 April, acara ini berhasil menghadirkan ruang rekonsiliasi budaya yang hidup dan membumi di tanah adat.

Pagelaran terbang gandul di pertunjukan oleh warga

Meskipun sempat diguyur hujan di awal pelaksanaan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat warga. Justru, setelah hujan reda, ribuan pengunjung berdatangan memadati lokasi acara. Suasana semakin terasa syahdu dengan nuansa obor yang temaram, menerangi sudut-sudut kampung, berpadu dengan suara toa yang menggema di keheningan malam, memutar lagu-lagu jadul yang membangkitkan kenangan masa lampau.
cosplay warga mencari kayu dan rumput

Alunan lagu-lagu klasik seperti yang dipopulerkan Ida Laila terdengar mengalun, menciptakan atmosfer nostalgia yang kental. Warga pun turut memeriahkan suasana dengan berbagai peran dan ekspresi unik. Ada yang cosplay sebagai pencari kayu bakar, berkeliling kampung sambil menawarkan dagangan dengan gaya tempo dulu, menghadirkan kembali kehidupan sederhana yang kini mulai jarang ditemui.

Sinden dan pengrawit topeng dharmo langgeng

Di sisi lain, keceriaan anak-anak menambah hangat suasana. Dengan pakaian ala anak SD zaman dulu, mereka bermain ban sepeda motor, berlarian menyusuri jalanan kampung, menghadirkan potret masa kecil yang begitu akrab dan membumi.

Uyon-uyon dari musisi jawi

Seluruh lapak UMKM yang ikut serta dalam kegiatan ini dilaporkan ludes terjual dengan kuliner jaman biyen, menjadi bukti nyata bahwa acara ini tidak hanya menghidupkan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga. Interaksi antara pelaku usaha dan pengunjung berlangsung hangat, memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan.

Pertunjukan wayang topeng jabung

Rangkaian acara yang diisi dengan berbagai pertunjukan seperti Mocopat, Grebek Pawai, Terbang Gandul, Topeng Darmo Langgeng, hingga Ludruk Organik “Hikayat Keblek” dan Uyonn-Uyon, semuanya berjalan dengan lancar dan mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat.

Keroncong Keroncong S3 (Senandung Suara Sidorejo).

Dengan semangat “Nguri-uri kabudayan, nguatake paseduluran, lan ngilingi asal-usul”, “Busu Jaman Biyen” tidak hanya menjadi sebuah acara, tetapi juga pengalaman kolektif yang menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi, mempererat persaudaraan, serta mengingatkan pentingnya menjaga jati diri budaya di tengah arus zaman.

Adegan Ludruk Organik berjudul Hikat Keplek

Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi pijakan untuk kegiatan budaya serupa di masa mendatang, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan warisan leluhur.

Mocopat Mbok Ngatinah
https://www.kampungadat.com/2026/04/taufik-nurahman-di-antara-waktu-dan-pengabdian-di-jabung.html
Sambutan Camat Jabung Taufik Nurahman
( Fest Busu Jaman Biyen )

Kepergian seorang pemimpin sering kali baru terasa betapa berharganya ketika ia benar-benar harus melangkah pergi. Itulah yang kini dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Jabung saat melepas sosok camat yang begitu istimewa, Taufik Nurahman.


Beliau bukan sekadar pejabat yang datang dan menjalankan tugas administratif. Perjalanan kariernya yang dimulai dari sekretaris kelurahan (seklur), kemudian lurah, sekretaris kecamatan (sekcam), hingga akhirnya menjadi camat, membentuk beliau sebagai pemimpin yang matang, memahami birokrasi dari bawah, dan yang terpenting—memahami masyarakatnya.


Kurang lebih empat tahun beliau membersamai Jabung. Waktu yang mungkin terasa singkat dalam hitungan kalender, tetapi begitu panjang dalam jejak pengabdian. Sosoknya dikenal sangat rendah hati, hangat, dan tanpa sekat. Tidak ada jarak antara beliau dengan masyarakat. Ia hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai bagian dari warga itu sendiri.


Hampir di setiap kegiatan dan undangan masyarakat, beliau selalu berusaha hadir. Bahkan di tengah kesibukan yang padat, beliau menyempatkan diri untuk datang, selama tidak bersamaan dengan agenda lain. Ada satu kalimat beliau yang begitu membekas: bahwa selama beliau masih mampu berdiri dan belum “tumbang”, beliau akan datang memenuhi undangan masyarakat. Kalimat sederhana, tetapi mencerminkan dedikasi yang luar biasa.


Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan STPDN (kini IPDN) juga tercermin dalam kepemimpinannya yang disiplin, tetapi tetap membumi. Salah satu warisan gagasan beliau yang sangat dirasakan manfaatnya adalah program SIBACA JABUNG (Sinau Bareng Camat Jabung). Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang belajar bersama yang dilaksanakan bergilir di desa-desa se-Kecamatan Jabung.


Melalui SIBACA, berbagai tema strategis diangkat sesuai kebutuhan masyarakat—mulai dari pengembangan UMKM, literasi desa, pemanfaatan aset desa, pencegahan perkawinan anak, hingga edukasi kebijakan seperti PBB-P2 dan Posyandu Terintegrasi. Program ini menjadi bukti bahwa beliau tidak hanya memimpin, tetapi juga menggerakkan dan memberdayakan.


Di bidang kebudayaan pun, beliau menunjukkan dukungan yang nyata. Salah satu momen yang masih hangat dalam ingatan adalah kehadiran beliau saat membuka kegiatan Busu Jaman Biyen bersama Kadisparbud dan Kepala Desa Slamparejo. Kehadiran itu bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk kecintaan terhadap budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.


Menjelang kepindahannya, beliau juga menyempatkan diri berpamitan melalui grup kesenian Kecamatan Jabung. Sebuah gestur sederhana, namun penuh makna, yang kembali menegaskan kedekatan beliau dengan para pelaku seni dan budaya di wilayah ini. Tidak berlebihan jika kemudian rasa kehilangan datang dari berbagai lapisan masyarakat.


Ungkapan haru dan doa pun mengalir dari banyak pihak. Arif Zulfan menyampaikan, “Selamat bertugas di tempat baru, setiap rumah di Jabung adalah rumah keluarga njenengan. Jangan segan mampir.” Sementara Nasai menuturkan, “Terima kasih atas segala sumbangsihnya, njenengan paling idola, Pak. Mugi selalu dalam limpahan keberkahan dan kesuksesan selalu… amiin.”


Dari Sam Fuad, terselip kehangatan persaudaraan, “Semangat, Pakku… di manapun njenengan berada, kita semua tetap seduluran.” Bahkan dari kelompok tani pun, kenangan tak kalah hangat disampaikan oleh Pak Hendry, “Pak Komandan, kami Kelompok Tani Usaha Maju II Argosari akan selalu rindu menanam bersama panjenengan, hehe… walaupun tidak masuk konteks.” Ucapan yang sederhana, namun justru menggambarkan betapa dekatnya beliau dengan berbagai kalangan.


Saat momen pelepasan dan kenang-kenangan, kata-kata seakan tak lagi mampu mewakili perasaan. Suasana haru tak terbendung—tangis, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf mengalir begitu saja. Bahkan, gelombang rasa kehilangan itu terasa luas di masyarakat. Hampir di setiap story dan status media sosial, terpampang foto beliau disertai ucapan terima kasih dan doa.

Itu semua menjadi bukti bahwa beliau bukan hanya dikenang sebagai camat, tetapi sebagai sosok yang benar-benar hadir di hati masyarakat.


Selamat bertugas di tempat yang baru, Bapak Taufik Nurahman. Jejak pengabdian panjenengan di Jabung akan selalu hidup dan menjadi inspirasi. Terima kasih atas dedikasi, ketulusan, dan kebersamaan yang telah diberikan. Jabung mungkin kehilangan seorang camat, tetapi akan selalu memiliki kenangan tentang seorang pemimpin yang istimewa.

Kisah Mbok Ngatinah, Penjaga Terakhir Mocopat Malangan di BJB Fest 2026 - Sore itu di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Jabung, semesta seolah sedang merenda sebuah panggung teater alam. Di sebuah halaman yang dahulunya adalah tempat pemotongan kayu (belandongan), sebuah struktur panggung sederhana didirikan. Lantainya hanya tumpukan palet kayu yang mungkin sisa dari gudang-gudang sekitar, beratap terpal biru yang dilapisi anyaman blarak (daun kelapa kering). Namun, dalam dunia kebudayaan, kemewahan tidak pernah diukur dari seberapa mahal material bangunannya, melainkan dari "ruh" yang akan ditiupkan di atasnya.

Siapa sangka, panggung bersahaja di Kampung Tretek ini dipersiapkan untuk menjadi singgasana bagi seorang penjaga terakhir memori kolektif Malang. Malam itu, di tengah hawa dingin lereng pegunungan, panggung tersebut bertransformasi menjadi pusat gravitasi budaya: tempat di mana Mocopat Malangan akan kembali menggema, menembus kabut waktu dan kesunyian zaman.

https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Tokoh sentral dalam fragmen sejarah ini adalah Mbok Ngatinah. Di usianya yang telah melampaui delapan dekade, wajahnya adalah peta dari perjalanan panjang tradisi tutur di Malang. Ketika penulis menjumpainya di kediamannya di Dusun Gentong, Desa Argosari, ada sebuah pengakuan yang menyesakkan dada: ia adalah yang terakhir. Teman-teman seperjuangannya, para dalang Mocopat, dan sesama pembaca layang, semuanya telah berpulang ke haribaan Tuhan.

Mbok Ngatinah kini berdiri seorang diri di persimpangan jalan antara tradisi yang sekarat dan modernitas yang abai. Namun, semangatnya tidak surut oleh usia. Dengan keteguhan hati seorang penjaga nyala api, ia menyanggupi untuk hadir di gelaran Busu Jaman Biyen 2026 (BJBfest2026). Ia tidak hanya datang untuk menembang; ia datang untuk memberikan "napas buatan" pada sebuah identitas yang sedang berada di ujung tanduk kepunahan.

Tanggal 10 April 2026, hujan lebat mengguyur Jabung seolah ingin membasuh debu-debu masa lalu sebelum sebuah ritual agung dimulai. Namun, alih-alih menyurutkan semangat, hujan justru menciptakan suasana intim. Suara rintik yang jatuh di atas atap terpal menjadi perkusi alami yang mengiringi suara Mbok Ngatinah yang mulai melantunkan bait-bait Layang Ahmad Muhammad.

Mocopat Malangan, sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), saat ini memang sedang berada dalam fase yang sangat rawan. Kerawanan ini bukan karena hilangnya teks, melainkan hilangnya subjek pelaku. Layang Ahmad Muhammad yang dibacakan Mbok Ngatinah adalah narasi panjang tentang kehidupan, spiritualitas, dan etika yang dibalut dalam sastra Arab-Jawa. Di bawah cahaya lampu panggung yang temaram, puluhan pasang mata—dari anak muda hingga sesepuh—menjadi saksi bagaimana sejarah ditulis kembali melalui getaran suara seorang nenek berusia 80-an tahun.

Kehadiran Mbok Ngatinah malam itu juga menarik perhatian ekosistem budaya yang lebih luas. Di depan panggung, terlihat Claudio Akbar, dalang muda dari Kota Malang, bersanding dengan rekan-rekan dari komunitas Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Penulis sendiri ditemani oleh dalang muda Wayang Topeng Jabung, Muhammad Anwar (Cipeng). Kehadiran mereka menunjukkan adanya kerinduan yang mendalam dari generasi muda untuk "menyesap" langsung ilmu dari sumbernya sebelum airnya benar-benar kering.

Suasana semakin "otentik" dengan penggunaan pengeras suara berbentuk TOA. Ada sesuatu yang sangat nostalgik dari suara yang keluar dari corong TOA tersebut—suara yang sedikit cempreng namun memiliki daya jangkau yang luas, mengingatkan kita pada atmosfer desa puluhan tahun silam. Aroma dupa yang terbawa angin sepoi-sepoi kian menambah kesan sakral, mengubah panggung sederhana itu menjadi ruang ritual yang memisahkan penonton dari hiruk-pikuk dunia luar.

https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Dalam pembacaan Mocopat, Mbok Ngatinah tidak sekadar bersuara. Ia sedang menelusuri siklus hidup manusia melalui sebelas tembang yang tersusun secara filosofis. Mulai dari Maskumambang (janin dalam kandungan), Mijil (kelahiran), hingga berakhir pada Pocung (kematian).

Duduk bersanding dengan Mas Cipeng, penulis menyadari betapa dalam pengetahuan tradisional ini. Meski penulis awam terhadap detail syairnya, Mas Cipeng dengan sigap menebak setiap perubahan tembang—ketika intonasi Mbok Ngatinah berubah menjadi megah di Dhandhanggula atau menjadi tegas di Durma. Stabilitas suara Mbok Ngatinah di usia senjanya adalah sebuah keajaiban biologis dan kultural; suaranya tetap berwibawa, menggetarkan hati setiap orang yang duduk bersila di atas terpal panjang tanpa kursi itu.

Malam kian larut, menembus pukul satu dini hari. Meskipun banyak penonton yang telah pulang, masih ada sisa kehangatan yang ditunggu-tunggu sesi Ugeman. Dalam tradisi Mocopat Malangan, Ugeman adalah puncak interaksi antara sang maestro dan pendengarnya. Ini bukan sekadar pemberian tips atau ugem yang disematkan di lipatan buku Mocopat, melainkan sebuah pertukaran energi spiritual.

Di sini, sang pembaca Mocopat dipercaya memiliki kemampuan untuk "membaca" atau meramal garis kehidupan penonton berdasarkan bait terakhir yang dibacakan saat uang ugem diberikan. Ada keyakinan kuat di masyarakat akar rumput bahwa ucapan dalang Mocopat dalam sesi Ugeman ini memiliki ketepatan yang magis. Ini adalah bentuk tertinggi dari apresiasi budaya, di mana seni tidak lagi menjadi tontonan, tetapi menjadi panduan hidup.https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Pulang sebelum sesi Ugeman usai, memang meninggalkan sedikit rasa penasaran, namun apa yang tertinggal dalam ingatan penulis adalah sebuah harapan yang rapuh namun indah. Mbok Ngatinah, dengan jilbab putihnya yang bersinar di bawah lampu panggung, telah membuktikan bahwa kebudayaan tidak butuh gedung mewah untuk menjadi agung.

Kegiatan Busu Jaman Biyen 2026 melalui penampilan Mbok Ngatinah adalah sebuah pengingat keras bagi kita semua. Jika Mocopat Malangan adalah sebuah naskah kuno, maka Mbok Ngatinah adalah tinta terakhirnya. Tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan tinta itu tidak mengering sebelum sempat menuliskan kembali pakem-pakemnya pada lembar ingatan generasi Claudio, Cipeng, dan generasi muda lainnya. Di Jabung malam itu, gerimis memang masih menyapa, namun suara Mbok Ngatinah telah berhasil menciptakan kehangatan yang akan terus bergema melampaui dinginnya malam pegunungan.