Assalamu'alaikum WR WB,

Rahayu Sagung Dumadi


Bapak ibu dan saudara sekalian

Pada tanggal 20-21 Maret 2026 berselang Umat Muslim Indonesia merayakan "Hari Raya Idul Fitri". Hampir bersamaan waktu, pada tanggal 19 Maret 2026 umat Hindu merayakan "Hari Raya Nyepi". Dua hari raya keagamaan yang nyaris bersamaan waktu. Selain kedua hari raya itu, masih terdapat sejumlah hari raya keagamaan lain, seperti Hari Raya Waisak pada Umat Buddha, Hari Raya Imlek pada etnik Tionghoa Hoa Pera- makan, perayaan Hari Paskah pada 5 April 2026 dan Natal 25 Desember 2025 lalu pada umat Kristen Protestan dan Katolik, dan masih banyak lagi hari-hari keagamaan lainnya. Terkesan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan "Hari Raya (diakro- nimkan dengan "Riayan" atau "Riadin").



Warga masyarakat etnik pun memiliki hari raya etnikya sendiri-sendiri. Warga sub-etnik Jawa Tengger misalnya, mempunyai Hari Raya Kasada dan Hari Raya Karo yang selenggarakan.setiap tahun dan hari raya Unan-unan setiap lima tahun. Terdapat juga Hari Raya Rambu Solo' pada etnik Toraja, Hari Raya (Pesta) Bona Taon pada etnik Batak, hari raya Pasola pada etnik Marapu di Sumba, dsb. Tak semua Hari Raya etnik tersebut berupa hari raya keagamaan. Bisa juga berupa "hari raya kebudayaan". Sesuai unsur sebutan."budaya" dalam "hari raya budaya", peyelenggaraannya berkenaan dengan perhelatan budaya. Adapun unsur sebutan "raya" pada "hari raya" memberi petunjuk mengenai suasana kebesaran dan kerayaan pada hari yang bersangkutan. Ada kemeriahan, ada kesuka-citaan, dan ada pula kebahagiaan, yang  belum tentu dapat ditemui pada hari-hari biasa. Pendek kata, hari raya keagamaan ataupun hari raya budaya adalah hari yang istimewa. Oleh karena itu, kehadirannya secara periodik ditunggu-tunggu oleh warga. 

 

Hari raya budaya tidak senantiasa berskala luas. Ada hari raya budaya yang berskala "mikro", seperti dalam apa yang dinamai "hari raya budaya kampung"  Festival "Busu Jaman Biyen (disingkat dengan "BJB") di Dusun Busu, yang diselenggarakan pada tanggal 10 hingga 12 April 2026 misalnya adalah salah satu dari "Hari Raya Budaya Kampung". Riayan Kabudayan ini adalah "ekspresi kesukacitaan, kebahagiaan dan kemeriahan kampung. Sebagai "agenda budaya tahunan", sekali dalam setahun warga di Dusun Busu mengekspresikan kegembiraan dan kebahagiaannya melalui wahana budaya "BJB", yang pada tahun ini (2026) memasuki tahun ke-3 -- sempat terkendala oleh Covid -19 pada tahun 2020-2022.


Hari Raya Budaya Kampung Busu bertajuk "Festival Busu Janan Biyen". Penggunaan unsur sebutan "jaman byen (bahasa Indonesia "Tempo Dulu")" memberi gambaran bahwa festival budaya ini "berperspektif historis". Sejalan dengan perspektif itu, khasanah sisio-kutural yang mentradisi (tradisi budaya) yang tumbuh dan berkembang di Busu lintas gerasi bahkan lintas masa diekspresikan pada helat budaya Ini. Mengapa helat budaya ini mengambil tema waktu  "masa lalu (bahasa Jawa "jaman biyen)"? Mengapa tidak memperggunakan sebutan "Festival Busu Jaman Now"?

Bapak ibu dan Saudara Pecinta Budaya 

Kerinduan akan kehidupan masa lampau terkadang menjadi "impian sesaat" oleh orang-orang yang hidup di masa kini. Tak sedikit festival betajuk "Tempoe Doeloe" dihelat di banyak tempat pada satu hingga dua dasawarsa terakhir. Kehidupan yang damai, yang "gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (aman, tentram, dau serta makmur)" pada masa lalu menjadi harapan hidup dari orang-orang masa kini, yang pada kesehariannya berada di dalam "kegundahan, kekurangan (kecingkrangan) dan kesulitan'. Jaman biyen dengan demikian tidak hanya difahami sebagai "kenangan (memory)", namun lebih dari itu merupakan "impian (dreaming)".

Pada helat budaya berperspektif "masa lalu (jaman biyen)" yang demikian, nuansa arkais (lawasan), anasir tradisi, kenangan lama, maupun kebaikan hidup" yang pernah hadir di masa lalu dihadirkan kembali. Para hadirin dibawa serta untuk memasuki lorong-lorong kampung yang kala itu dikemas menjadi "lorong waktu kelampauan (ancient time tunel)". Helai budaya ini acap dijadikan sebagai wahana "healing" secara kultural dalam rangka menyembuhkan luka batin, peyakit mental atau kondidi emosional yang bisa jadi menghinggapi orang-orang masa kini guna memperoleh ketenangan, kenyamanan dan kesehatan mental yang lebih baik. Festival Budaya "BJB" dengan demikian adalah wahana healing bagi warga Dusun Busu dan dusun ataupun Desa-desa lain di sekitarnya. Helat budaya ini memiliki "daya magnit" untuk menarik kehadiran warga dusun Busu dan Dusun/Desa lain ke Dusun Busu untuk "berkenduri budaya" yang membahagiakan.

Bapa, ibu, dan Saudara yang Budiman  

Kehidupan sosial di  Busu masa pada masa lampau, yang diwarnai oleh jejaring sosial yang berupa kegotongroyongan dan kerja sama dalam tradisi "sayan (saya+an)" pada sesi ini seolah hadir kembali, sedari proses persiapan hingga pelaksanaan "Festival BJB". Festival budaya kampung Busu yang berbasis pada gotong royong dan dharma bhakti mendapat sokongan dari mayoritas warga dusun secara suka rela dan dalam suasana suka cita. Tanpa adanya fssiltasi dari pemerintah Desa, Kabupaten, Provinsi maupun Pusat pun festival budaya ini tetap dihelat dengan spirit sosial yang mandiri. Kata kunci (keyword) terselenggaranya adalah "kegotongroyongan" menurut tradisi "sayan". Pada ikatan sosial ini warga Busu ibarat untaian lidi dalam bentuk sapu lidi, yang dengan "kebersamaan"-nya mampu menghelat kegiatan akbar yang tak bakal mampu bila ditangani secara perorangan.

Busu yang berada di lembah sisi selatan -barat Gunung Tengger adalah kampung tua. Meski merupakan kampung terakhir di tepian Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN BTS), namun telah menjadi ajang kegiatan sosial- budaya semenjak amat lama. Konon Busu yang berada di Desa Slamparejo ini masuk ke dalam wilayah desa kuno Jebing -- kini berubah sebutan menjadi "Jabung", yakni sebutan untuk Desa dan Kecamatan di sub-area timur Kabupaten Malang. Keberadaan Desa Jebing disebutkan dalam prasasti tembaga (tamra prasasti) yang ditemukan di bukit Penanjakan, sehingga diberi sebutan "Prasasti Pamanjakan (1405/6 Masehi). Pada prasasti era Majapahit ini, Jebing dan empat desa lain di sekitarnya, yaitu desa (1) Kacaba (?), Walandit (kini disebut "Blandit" pada Desa Wonoejo), Mamanggis (kini "Manggis" di Desa Srigading), dan Lili (?) merupakan desa-desa "Tengger Mula", yang setiap tahun di pada Bulan Asada (kini disebuti  "Kasada") melakukan pemujaan terhadap "Gunung Suci Brama" sebagai tempat persemayaman Hyang Swayabhu (sebutan lengkap "Swayabhuva", yakni nama lain untuk Dewa Brahma).

Desa Jabung dan desa-desa lain tetangga-nya, termasuk Walandit, dengan demikian adalah "desa-desa bersejarah". Bahkan, desa kuno Muncang di tetangga Jabung  telah disebut di dalam Prasasti Muncang (944 Masehi). Pada desa di lereng selatan Gunung Tengger ini terdapat bangunan suci suci Walandit untuk pemujaan Sang Hyang Swayambhu. Untuk kepentingan itu desa Muncang ditetapkan sebagai "desa perdikan (sima atau swatantra)". Sebutan "muncang" adalah istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk rempah-rempah, yang di ddalam bahasa Jawa Baru disebut dengan "miri (bahasa Indonesia "kemiri"). Kini topinimi yang bersinonim arti dengan  "muncang" masih  tersimpan menjadi nama "Kemiri I, II dan III" di Kecamatan Jabung. Desa Kemiri bertetangga dengan Desa Wonorejo (Dusun Blandit berada di dalamnya), Desa Jabung (dulu dinamai "Jebing") dan Desa Slamparejo (Dusun Busu ada di wilayahnya).

Bapak, Ibu dan Saudara yang Bijaksana 

Sebagai "dusun bersejarah",, tepatlah bila Kampung Busu menghelat festival budaya yang berperspektif historis dengan tajuk "Busu Janan Biyen (BJB)". Festival ini turut menegaskan "historisitas Kampung Busu" sebagai kampung yang telah meniti sejarah panjang, sebagaimana terlibat dalam proses dinamika sosial-budayanya dari waktu ke waktu menuju ke arah kemajuan. Anasir sosial-budaya lama, yang kini hadir sebagai tradisi sosio-kultura merupakan "Warisan Sosial-Budaya (Socio-Cultural Heritage)" yang perlu dieksplorasi lantas dikonservasi (dilestarikan) sebagai sumberdaya sosial-budaya internal dusun Busu. Adapun anasir budaya baru luar yang memasuki Dusun Busu dopisisikan sebagai kekuatan eksternal yang berguna untuk membaharukan (mengatualisasiikan) aset ekologis, sosial dan kultural setempat.

Tradisi sosial dan budaya di Busu adalah suatu warisan budaya (cultural heritage) yang secara organik dilestarikan. Generasi tua berada di garda depan untuk melestari- kan warisan budaya masa lampau. Adapun generasi muda musti tampil sebagai "agen pembaharuan" untuk mengaktualisasikan kekayaan alam, sosial dan budaya lokalnya agar sesuai dengan kondisi dan keperkuan hidup  masa kini. Paduan antara dua ikhtiar itu, yaitu (a) konservasi dan (b) unovasi itu merupakan kekuatan internal untuk dapat mendinsmisasikan Dusun Busu ke arah kemajuan tanpa harus menyirnakan aset sisio-kultura yang telah mentradisi di dusunnya. Kreatifitas warga dusun adalah kunci untuk unovasi dusun. Anasir tradisi diolahkreasikan memjadi "tradisi-kreasi" agar sesuai dengan jiwa zaman (zeit geist).

Kampung Busu adalah dusun agraris, yang konon warganya membudidayakan padi jenis gaga di sawah pagagan dan palawija ditanah tegalnya. Kini budidaya padi dan palawija mulai tergeser oleh budidaya rumput gajah sebagai pakan sapi perah yang dibudidayakannya.  Sebagian yang lainnya mengisi waktu luang dalam bertani dengan  usaha kerajinan dan pertukangan. Konon dusun Slamparejo para sub-area timur Kabupaten Malang merupakan sentra kerajinan anyam bambu.  Ada pula yang merajin mainan anak dari bahan kayu. Para pekerja bangunan dan tukang kayu asal Busu  dikenal sebagai tukang bangunan yang terampil. Ini berarti bahwa kreatifitas telah cukup lama terbangun di Dusun Busu. Hingga kini pun sejumlah warga kampung Busu dikenal sebagai kreator handal di sektor kerajinan. Okeh karena itu, Kampung Busu layak menyandang predikat sebagai "Kampung Undagi/Undahagi yang warga dusunnya terbilang kreatif, sehingga bisa juga dipredikati sebagai "kampung kreatif"..

Untuk kepentingan kini serta mendatang, anasir tradisi yang menjadi kekayaan internal Kampung Busu perlu dibaharukan (up dating) dengan memanfaatkam anasir budaya baru dari luar secara adaptif untuk mendinamisasikan eko-sosio-kultura di Dusun Busu. Dengan cara demikian, maka Kampung Busu, yang pada satu dasawarsa terakhir menjelma menjadi "Kampung Sapi Perah" bakalan memperoleh kemajuannya dan membuahkan kesejahteraan bagi warga masyarakatnya. Selamat merayakan "Hari Raya Budaya Kampung" di Dusun Busu yang bertajuk "Busu Jaman Biyen (disingkat "BJB"". Semoga helat budaya tahunan ini bakal membuahkan ragam kefaedahan dan berlanjut ke helat BJB ke-4 pada tahun datang (2027).

Wassalamualaikum WR WB. Rahayu


Griyajar Citralekha, 9 April 2026

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest) 2026 resmi kembali hadir menyapa masyarakat setelah vakum selama lebih dari lima tahun akibat pandemi COVID-19. Berlokasi di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, gelaran yang berlangsung pada 10-12 April 2026 ini mengusung tema besar “Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi dan pemulihan identitas lokal masyarakat pascapandemi.

Suasana Warga Mendalami Karakter Busu Jaman Biyen
(Foto by Boem )

Daya Tarik Utama BJB Fest 2026 Rekonsiliasi Budaya dan Tradisi

BJB Fest 2026 menawarkan pengalaman unik yang membedakannya dari festival desa lainnya. Berikut adalah beberapa highlight utama dari acara tersebut:

1. Suasana Desa Tempo Dulu yang Autentik

Pengunjung yang datang akan disambut dengan suasana pedesaan masa lalu yang kental. Pada malam hari, pencahayaan di lokasi festival tidak menggunakan lampu modern, melainkan hanya mengandalkan obor di sudut-sudut jalan untuk menciptakan nuansa mistis dan klasik.

2. Gastronomi Nusantara: Kuliner Tradisional Langsung dari Rumah Warga

Salah satu keunikan utama festival ini adalah partisipasi organik warga. Setiap rumah warga di wilayah RW 03 disulap menjadi lapak kuliner tradisional yang menyajikan hasil bumi lokal. Pengunjung dapat menikmati hidangan khas seperti:

  • Nasi Jagung
  • Jenang Grendul
  • Gulali dan Kacang Rebus

Tidak hanya membeli, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pengolahan makanan secara tradisional, mulai dari menumbuk bahan hingga menggiling jagung menggunakan alat kuno.

3. Pertunjukan Seni dan Budaya yang Memukau

Festival ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesiana 2026. Berbagai atraksi seni yang ditampilkan antara lain:

  • Pawai Budaya keliling dusun sebagai pembuka acara.
  • Tari Topeng Gunungsari khas Jabung.
  • Ludruk Organik yang dipentaskan oleh petani lokal tanpa latar belakang seni formal.
  • Teater Tari “Pengakuan Rahwana” dari Malang Dance yang memberikan perspektif baru tentang tokoh Rahwana sebagai simbol cinta sejati.

Pemberdayaan Ekonomi dan Gotong Royong Warga

Ketua Pelaksana BJB 2026, Depi Ari Cahyono (Kusnadi), menekankan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah pemberdayaan dan kemanfaatan masyarakat. Panitia tidak memungut biaya bagi warga yang ingin berjualan, sehingga mendorong partisipasi tinggi dari pelaku UMKM lokal. Dari target awal 25 lapak, antusiasme warga melonjak hingga lebih dari 50 pendaftar.

Selain kuliner, atraksi "pekerjaan kasar" masa lalu juga ditampilkan oleh pemuda setempat, seperti memotong kayu dengan alat kuno dan menggendong kayu menggunakan keranjang tradisional khas tahun 1980-an.


Dukungan Pemerintah Kabupaten Malang

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyatakan kekagumannya atas militansi warga Dusun Busu dalam menjaga warisan leluhur. Ia berkomitmen untuk menjadikan Busu Jaman Biyen Festival sebagai agenda rutin tahunan dalam kalender wisata resmi Kabupaten Malang.


Kata Kunci SEO: Festival Busu Jaman Biyen 2026, BJB Fest Malang, Wisata Budaya Jabung, Kuliner Tradisional Malang, Rekonsiliasi Budaya, Wisata Malang Timur, Dana Indonesiana 2026, Desa Slamparejo.

Di sebuah desa di Malang pada era 1960–1980-an, kehidupan masyarakat masih penuh keterbatasan. Warga hidup sederhana sebagai petani kecil, buruh, dan pencari nafkah seadanya. Meski serba kekurangan, mereka berusaha tetap bersyukur dan menjaga kebersamaan.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html
Namun, ketenangan desa mulai terusik oleh kejadian aneh: beras warga tiba-tiba berkurang secara misterius. Dari satu rumah ke rumah lain, dari dusun ke dusun, kabar tentang makhluk gaib bernama “Keblek” mulai menyebar. Sosok ini dipercaya sebagai siluman pencuri beras, berwujud hitam, menyeramkan, dan sering dikaitkan dengan pesugihan.

Awalnya hanya desas-desus, tapi kejadian demi kejadian membuat warga resah.

  • Di pos ronda, warga mulai membicarakan kesulitan hidup dan harapan akan kesejahteraan.
  • Di rumah-rumah, para ibu menyadari stok beras mereka menyusut tanpa sebab.
  • Di pasar, kabar Keblek menjadi perbincangan hangat, bahkan bercampur candaan dan ketakutan.
  • Anak-anak yang pulang malam pun mulai merasakan kejanggalan hingga akhirnya melihat sosok misterius di kegelapan.

Ketakutan berubah menjadi kepanikan. Warga meningkatkan ronda malam, meminta bantuan dukun, hingga melakukan berbagai ritual untuk menangkap Keblek. Namun, semua usaha belum membuahkan hasil.

Di sisi lain, kisah menyentuh muncul dari Mbok Surti dan anaknya, Wagiah, yang hidup dalam kemiskinan. Mereka hanya mengandalkan sisa panen orang lain untuk bertahan hidup. Ironisnya, beras yang mereka kumpulkan dengan susah payah pun ikut hilang. Hal ini menambah luka dan kemarahan mereka terhadap “Keblek”.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html

Akhirnya, warga sepakat melakukan ikhtiar bersama:

  • Berpuasa di hari tertentu
  • Berkumpul di perempatan desa saat malam
  • Menggunakan cara-cara tradisional untuk memancing dan menangkap Keblek

Malam penentuan pun tiba. Suasana mencekam, gelap, penuh ketegangan. Warga bersiap menghadapi sesuatu yang tak pasti—apakah benar Keblek itu makhluk gaib, atau justru ada rahasia lain di balik semua kejadian ini?


Inti Cerita (Makna)

Cerita ini bukan sekadar tentang makhluk gaib, tetapi juga menggambarkan:

  • Kerasnya hidup masyarakat desa
  • Godaan keserakahan vs rasa syukur
  • Ketakutan kolektif yang bisa membesar karena isu
  • Kemungkinan bahwa “Keblek” bukan hanya makhluk, tapi simbol dari keserakahan manusia


Kalau kamu mau, saya bisa:

  • Membuat narasi voice over sinematik (buat video/poster)
  • Membuat ringkasan versi pendek (caption IG / poster festival)
  • Atau mengubahnya jadi storyboard visual untuk desain banner / film pendek

https://www.kampungadat.com/2026/04/rundown-bjb-fest-2026-festival-busu-jaman-biyen.html


RUNDOWN ACARA

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest 2026)
“Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”
📅 10 – 12 April 2026
📍 Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab. Malang


Hari 1 – Jumat

Pagi (09.00 WIB – selesai)

  • Bubak’an
    Peserta: Masyarakat & Panitia

Siang (13.30 – 16.00 WIB)

  • Bangga Mendesа: “Menjadi Mbusu”
    📍 Area Dusun Busu RW 03

Sore (15.00 – 17.30 WIB)

  • Pawai Undang Tamu:
  • Sambutan dari Perwakilan dinas Kebudayaan dan pariwisata
  • Pepiling weweling Bapak Kepala Desa
  • Orasi budaya

17.30 WIB

  • Istirahat / Break Magrib

18.15 WIB

  • Persiapan & cek sound Keroncong
    Oleh: Grup Keroncong Senandung Sidorejo

18.30 – 21.00 WIB

  • Jeda Giat – Panggung Sambang
        📍 (Area Bazar Gastronomi)

21.00 WIB

  • Keroncong Senandung Swara Sidorejo
    📍 Panggung Utama
  • Mocopat oleh Mbok Ngatinah (Maestro Mocopat Malangan)
    📍 Panggung 3 (Distrik RT 22)
  • Terbang Gandul
  • 📍 Panggung (Distrik RT 18)

Hari 2 – Sabtu

08.00 – 11.30 WIB

  • Bangga Mendesа: “Riyayan Dolanan Rakyat”
    📍 Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.30 WIB

  • Bangga Mendesа: “Menjadi Mbusu”
    📍 Dusun Busu RW 03
15.30 - 19.00
  • Blocking perfom Topeng Darmo langgeng +check sound n karawitan
  • 📍 Panggung Utama
19.30-20.30
  • Gending Gending Pambuko
  • 📍 Panggung Utama
20.30 - 22.30
  • Pentas Wayang Topeng Darmo Langgeng ( panggung utama)
  • 📍 Panggung Utama
20.00- 22.00
  • Lagu lagu tempo dulu ( ciple legend) 
  • 📍 Districk RT 22.
22.30 - 23.00
  • closing

Hari 3 – Minggu

09.00 – 13.00 WIB

  • Bangga Mendesа: “Riyayan Pembakti Kampung”
    📍 Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.00 WIB

  • Bangga Mendesа: “Menjadi Mbusu”
    📍 Dusun Busu RW 03

15.00 – 17.30 WIB

  • Bangga Mendesа: “Uyon-Uyon Kampung”
    📍 Dusun Busu RW 03

17.30 – 19.30 WIB

  • Break magrib dan Isyak

19.30 – 20.30 WIB

  • Prolog Ludruk organik
20.40 – 22.30 WIB
  • Drama "Ludruk organik" dalam lakon "Hikayat Keblek"
22.30 - Selesai
  • Closing

Peta Kecamatan Jabung  Kabupaten Malang Google Maps

        Peta Kecamatan Jabung Google Maps menampilkan lokasi lengkap wilayah Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, secara akurat dan detail. Melalui peta ini, pengguna dapat dengan mudah menemukan desa, dusun, jalan utama, fasilitas umum, hingga destinasi wisata di Kecamatan Jabung. Akses navigasi real-time dari Google Maps memudahkan perjalanan, pencarian rute tercepat, serta eksplorasi area sekitar secara praktis dan efisien. Cocok digunakan untuk kebutuhan perjalanan, survei lokasi, maupun informasi geografis terkini di Jabung.
https://www.kampungadat.com/2026/04/peta-kecamatan-jabung-google-maps.html