Kisah Mbok Ngatinah, Penjaga Terakhir Mocopat Malangan di BJB Fest 2026

Kisah Mbok Ngatinah, Penjaga Terakhir Mocopat Malangan di BJB Fest 2026 - Sore itu di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Jabung, semesta seolah sedang merenda sebuah panggung teater alam. Di sebuah halaman yang dahulunya adalah tempat pemotongan kayu (belandongan), sebuah struktur panggung sederhana didirikan. Lantainya hanya tumpukan palet kayu yang mungkin sisa dari gudang-gudang sekitar, beratap terpal biru yang dilapisi anyaman blarak (daun kelapa kering). Namun, dalam dunia kebudayaan, kemewahan tidak pernah diukur dari seberapa mahal material bangunannya, melainkan dari "ruh" yang akan ditiupkan di atasnya.

Siapa sangka, panggung bersahaja di Kampung Tretek ini dipersiapkan untuk menjadi singgasana bagi seorang penjaga terakhir memori kolektif Malang. Malam itu, di tengah hawa dingin lereng pegunungan, panggung tersebut bertransformasi menjadi pusat gravitasi budaya: tempat di mana Mocopat Malangan akan kembali menggema, menembus kabut waktu dan kesunyian zaman.

https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Tokoh sentral dalam fragmen sejarah ini adalah Mbok Ngatinah. Di usianya yang telah melampaui delapan dekade, wajahnya adalah peta dari perjalanan panjang tradisi tutur di Malang. Ketika penulis menjumpainya di kediamannya di Dusun Gentong, Desa Argosari, ada sebuah pengakuan yang menyesakkan dada: ia adalah yang terakhir. Teman-teman seperjuangannya, para dalang Mocopat, dan sesama pembaca layang, semuanya telah berpulang ke haribaan Tuhan.

Mbok Ngatinah kini berdiri seorang diri di persimpangan jalan antara tradisi yang sekarat dan modernitas yang abai. Namun, semangatnya tidak surut oleh usia. Dengan keteguhan hati seorang penjaga nyala api, ia menyanggupi untuk hadir di gelaran Busu Jaman Biyen 2026 (BJBfest2026). Ia tidak hanya datang untuk menembang; ia datang untuk memberikan "napas buatan" pada sebuah identitas yang sedang berada di ujung tanduk kepunahan.

Tanggal 10 April 2026, hujan lebat mengguyur Jabung seolah ingin membasuh debu-debu masa lalu sebelum sebuah ritual agung dimulai. Namun, alih-alih menyurutkan semangat, hujan justru menciptakan suasana intim. Suara rintik yang jatuh di atas atap terpal menjadi perkusi alami yang mengiringi suara Mbok Ngatinah yang mulai melantunkan bait-bait Layang Ahmad Muhammad.

Mocopat Malangan, sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), saat ini memang sedang berada dalam fase yang sangat rawan. Kerawanan ini bukan karena hilangnya teks, melainkan hilangnya subjek pelaku. Layang Ahmad Muhammad yang dibacakan Mbok Ngatinah adalah narasi panjang tentang kehidupan, spiritualitas, dan etika yang dibalut dalam sastra Arab-Jawa. Di bawah cahaya lampu panggung yang temaram, puluhan pasang mata—dari anak muda hingga sesepuh—menjadi saksi bagaimana sejarah ditulis kembali melalui getaran suara seorang nenek berusia 80-an tahun.

Kehadiran Mbok Ngatinah malam itu juga menarik perhatian ekosistem budaya yang lebih luas. Di depan panggung, terlihat Claudio Akbar, dalang muda dari Kota Malang, bersanding dengan rekan-rekan dari komunitas Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Penulis sendiri ditemani oleh dalang muda Wayang Topeng Jabung, Muhammad Anwar (Cipeng). Kehadiran mereka menunjukkan adanya kerinduan yang mendalam dari generasi muda untuk "menyesap" langsung ilmu dari sumbernya sebelum airnya benar-benar kering.

Suasana semakin "otentik" dengan penggunaan pengeras suara berbentuk TOA. Ada sesuatu yang sangat nostalgik dari suara yang keluar dari corong TOA tersebut—suara yang sedikit cempreng namun memiliki daya jangkau yang luas, mengingatkan kita pada atmosfer desa puluhan tahun silam. Aroma dupa yang terbawa angin sepoi-sepoi kian menambah kesan sakral, mengubah panggung sederhana itu menjadi ruang ritual yang memisahkan penonton dari hiruk-pikuk dunia luar.

https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Dalam pembacaan Mocopat, Mbok Ngatinah tidak sekadar bersuara. Ia sedang menelusuri siklus hidup manusia melalui sebelas tembang yang tersusun secara filosofis. Mulai dari Maskumambang (janin dalam kandungan), Mijil (kelahiran), hingga berakhir pada Pocung (kematian).

Duduk bersanding dengan Mas Cipeng, penulis menyadari betapa dalam pengetahuan tradisional ini. Meski penulis awam terhadap detail syairnya, Mas Cipeng dengan sigap menebak setiap perubahan tembang—ketika intonasi Mbok Ngatinah berubah menjadi megah di Dhandhanggula atau menjadi tegas di Durma. Stabilitas suara Mbok Ngatinah di usia senjanya adalah sebuah keajaiban biologis dan kultural; suaranya tetap berwibawa, menggetarkan hati setiap orang yang duduk bersila di atas terpal panjang tanpa kursi itu.

Malam kian larut, menembus pukul satu dini hari. Meskipun banyak penonton yang telah pulang, masih ada sisa kehangatan yang ditunggu-tunggu sesi Ugeman. Dalam tradisi Mocopat Malangan, Ugeman adalah puncak interaksi antara sang maestro dan pendengarnya. Ini bukan sekadar pemberian tips atau ugem yang disematkan di lipatan buku Mocopat, melainkan sebuah pertukaran energi spiritual.

Di sini, sang pembaca Mocopat dipercaya memiliki kemampuan untuk "membaca" atau meramal garis kehidupan penonton berdasarkan bait terakhir yang dibacakan saat uang ugem diberikan. Ada keyakinan kuat di masyarakat akar rumput bahwa ucapan dalang Mocopat dalam sesi Ugeman ini memiliki ketepatan yang magis. Ini adalah bentuk tertinggi dari apresiasi budaya, di mana seni tidak lagi menjadi tontonan, tetapi menjadi panduan hidup.https://www.kampungadat.com/2026/04/kisah-mbok-ngatinah-penjaga-terakhir-mocopat-malangan-bjbfest2026.html

Pulang sebelum sesi Ugeman usai, memang meninggalkan sedikit rasa penasaran, namun apa yang tertinggal dalam ingatan penulis adalah sebuah harapan yang rapuh namun indah. Mbok Ngatinah, dengan jilbab putihnya yang bersinar di bawah lampu panggung, telah membuktikan bahwa kebudayaan tidak butuh gedung mewah untuk menjadi agung.

Kegiatan Busu Jaman Biyen 2026 melalui penampilan Mbok Ngatinah adalah sebuah pengingat keras bagi kita semua. Jika Mocopat Malangan adalah sebuah naskah kuno, maka Mbok Ngatinah adalah tinta terakhirnya. Tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan tinta itu tidak mengering sebelum sempat menuliskan kembali pakem-pakemnya pada lembar ingatan generasi Claudio, Cipeng, dan generasi muda lainnya. Di Jabung malam itu, gerimis memang masih menyapa, namun suara Mbok Ngatinah telah berhasil menciptakan kehangatan yang akan terus bergema melampaui dinginnya malam pegunungan.

0 Comments:

Posting Komentar