Enam Lagu Arca Tatasawara Menggemparkan Bumi Busu

https://www.kampungadat.com/2024/06/enam-lagu-arca-tatasawara-menggemparkan.html


Hari kedua even budaya Tepung Sanak, dusun Busu, desa Slamparejo, kecamatan Jabung, kabupaten Malang menjadi puncak perjumpaan dalam kegembiraan warga Busu dengan saudara, kerabat dan komunitas yang ada di wilayah Malang. Tepung Sanak, yang mana menjadi agenda rutin tahunan dusun Busu ini, menjadi satu upaya dalam mengeksplor dan merevitalisasi berbagai macam seni budaya serta gastronomi tradisional yang ada di Busu.


Dengan konsep Tempo Doeloe, menjadikan acara budaya yang skup kampung, atau bisa di katakan skala RT ini mampu menyerap ribuan pengunjung. Hal ini, bisa di lihat dalam suasana selama 2 hari acara berlangsung, dari tanggal 1 sampai 2 juni 2024. Pengunjung sudah memadati jalanan paving, yang temaram berlampu obor ini, mengularnya antrian di tiap lapak warga yang berjualan dengan konsep sederhana nan tempo doeloe, yang mana menjajakan semua gastronomi tradisi dusun Busu.


Gastronomi dusun Busu


Pertunjukan seni di hari kedua ini, tidak sebanyak tampilan hari pertama yang mana di isi oleh seni budaya dari warga Busu, yang mana berkolaborasi dengan mahasiswa UIN Maliki Malang mata kuliah pendidikan seni musik, Jurusan Pendidikan Guru Madrahan Itidaiyah (PGMI)/ PGSD Fakultas Tarbiyah, mahasiswa berjumlah 33 orang ini selama 3 hari residensi dalam melatih dan mengajar kesenian musik pada adik-adik Busu. Selain musik, para mahasiswa juga mendapatkan pengajaran tari dan kerajinan oleh warga Busu, selama 3 hari mahasiswa dan warga saling silang berbagi ilmu, yang mana ditampilkan di panggung seni hari pertama Tepung Sanak.


Malam puncak panggung seni hanya menyajikan 4 kegiatan, yaitu pertunjukan Banteng Alit Putera Suratedja pada pukul 16.00 hingga 17.30 wib. dan malam harinya pertunjukan seni di panggung utama dimulai pukul 20.00 wib dengan seni tari pembuka oleh adik Fara dan Vika, sebelum  grup Arca Tatasawara tampil dan di tutup oleh grup Santri Budaya dengan seni Bantengannya. Meskipun rundown acara hanya menampilkan 4 kegiatan, namun antusias warga tidak kalah ramai dengan hari pertama, bahkan hingga acara usai pukul 12.00 wib, masyarakat yang di dominasi ibu-ibu dan remaja putri ini tetap ramai.


Masyarakat yang sedari sore sudah memadati area dusun Busu, RT 22 RW 03 desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, kabupaten Malang ini mulai merangsek dan mendekati lapangan yang di apit dua rumah warga di sisi kanan dan kirinya panggung ini, ketika lagu pembuka dari grup Arca Tatasawara di mainkan. Sesekali tepuk tangan terdengar selama lagu di lantunkan Sam Nova, vokalis Arca Tatasawara ini.


Kegembiraan dan antusias sangat terlihat dari warga, banyak ibu-ibu yang saling bertanya tentang grup yang mereka tonton malam itu. Njagong lan Lelagon, menjadi satu suguhan yang baru bagi warga Busu, yang mana Arca Tatasawara melantunkan lagu-lagunya dengan berkolaborasi jejagongan yang di isi oleh Gus Muham El Mutaqdir, pengampu Gubuk Sufi dari dusun Bendo, desa Sukolilo, Kecamatan Jabung. sebuah kombinasi yang unik dan menjadi suguhan baru warga Busu.



Dari awal lagu berjudul Dolanan dilantunkan Arca Tatasawara, warga tidak meninggalkan lapangan, hingga lagu terakhir. Masyarakat semakin sorai tak kala lagu berjudul Malang di nyanyikan, yang mana merupakan single terbaru dari Grup Arca ini. Untuk di ketahui personil Arca Tatasawara adalah:

  1. Agus Wayan ( bermain Sapek)

  2. Faisal Satria Defrianto (Kendang, Seruling)

  3. Koko Hardianto (Lead Gitar)

  4. Muhammad Sholeh ( Gitar Bas)

  5. Aditya Hendra Setiawan (Drum)

  6. Tutut Pristiati (Biola)

  7. Nova Andiano (Kecapi, Gitar dan Vokal).


https://www.kampungadat.com/2024/06/enam-lagu-arca-tatasawara-menggemparkan.html

Malam itu, selain komposisi lengkap Arca Tatasawara, alunan musik sangat harmonis dengan aliran kolaborasi ketukan Jimbe serta ketipung oleh Junaidi (Pak Let Percussion) yang berkolaborasi menyajikan 6 lagu berjudul Dolanan, Panyuwunan, Mantra Nyawiji, Arabian Java, dan Malang.


Kusnadi Abit, salah satu penggagas acara ini menyampaikan, bila kegiatan Tepung Sanak, adalah kerinduan serta rasa ingin kembali meramaikan dusun dengan kegiatan yang berimpak pada terjaganya kearifan lokal di Busu. Selain itu, dirinya juga mengungkapkan bahwa kelancaran dan kesuksesan acara Tepung Sanak, tak lain adalah peran aktif masyarakat Busu serta muda mudi wilayahnya, yang mana juga bantuan teman-teman penggerak Republik Gubuk yang sedari hari pertama sudah banyak membantu.


“Kangen ini om, warga sudah lama tidak mempunyai kegiatan Tempo Doeloe-an, dan matursuwun untuk semua yang tak lelah membantu acara ini” terang warga yang biasa di sebut Abit Hunter ini.


Lanjut Abit, yang mengharukan dari kegiatan dua malam ini, adalah totalitas para panitia, terlebih panitia dadakan di hari kedua yang mana panitia di serahkan pada adik-adik Gubuk Lereng Busu, yang rata-rata masih berusia sekolah SMP dan SMA.


“Panitia malam ini, semua adalah anak-anak GBLB yang semuanya masih sekolah dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMA, ini semua panitia dadakan setelah kepanitiaan dari PGMI di bubarkan” terang pria yang identik dengan kain Jimat Paripih ini.


Selain itu, kehadiran mahasiswa residensi selama 3 hari di wilayahnya, menjadikan salah satu penyemangat warga untuk berkegiatan yang setelah pandemi covid tahun 2019 yang lalu belum di lakukan lagi. Banyaknya apresiasi dan suport pada even budaya ini juga terlihat dari bebagai kalangan komunitas, penggiat seni, sosial dan warga luar Jabung yang hadir.


Agus Wayan yang bernama asli Joko Prihatin Gusindra Mpd salah satu personel Arca Tatasawara menyampaikan bahwa, kehadiran Grup bergenre World Musik ini di Busu, tak lain adalah bentuk suport kepada seni dan kebudayaan yang ada di Malang.


“Dari awal kami bersepakat untuk main dikegiatan budaya Tepung Sanak, sebagai bentuk suport kami (Arca Tatasawara) kepada kegiatan kebudayaan, dan memang telah lama kami punya kedekatan dengan teman-teman di Busu, Jabung ini” terangnya Agus Wayan.


Dipenghujung tampilan, penonton kembali di kejutkan dengan lagu dangdut “Ikan Dalam Kolam”,  yang dibawakan dengan aransemen khas Arca Tatasawara membuat teduk kagum para penonton, terutama penonton muda mudi yang riuh bertepuk tangan. Dan yang menariknya, hingga usai penonton tetap tidak meninggalkan lapangan tengah RT ini, dikarenakan tampilan puncak adalah persembahan grup Bantengan dari Santri Budaya dari dusun Busu sendiri.


 



0 Comments:

Posting Komentar