Gastronomi Tradisi Dusun Busu, 2 Jam sudah Ludes. - KECAMATAN JABUNG | KAMPUNG ADAT | DUSUN BUSU MALANG | KABUPATEN MALANG
Kampung adat jaman dulu dimana ada busu pada masa lalu tanpa adanya penerangan. dan merasakan keadaan kampung masa itu
Pawai wayang orang di kampung adat
Penampilan para pemain ludruk organik yang pemainya dari warga kampung dan basik mereka bukan pemeran seni
Pertujukan wayang kulit oleh dalang cilik.

Sabtu, 01 Juni 2024

Gastronomi Tradisi Dusun Busu, 2 Jam sudah Ludes.

https://www.kampungadat.com/2024/06/gastronomi-tradisi-dusun-busu-2-jam.html



Nostalgia tentang suasana, pengalaman, kenangan bahkan keadaan menjadi satu hal yang mengasikan dalam ajang “Tempo Doeloe” di even budaya Tepung Sanak, dusun Busu, RT 22 RW 03 desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, kabupaten Malang. Suguhan keramahan, kesederhanaan, kepolosan dan keharmonisan menjadi nilai yang menggembirakan bagi pengunjung pekan budaya skala dusun ini, sabtu (1 juni 2024).


Lorong jalan paving kampung Tretek, dusun Busu itu hanya di terangi oleh penerangan obor. di kanan kirinya di hiasai lapak-lapak penjual makanan dan jajanan tradisional khas dusun Busu. Suasana yang temaram, menjadikan kenangan akan masa lalu lengkap bagi pengunjung. Meski pertunjukan seni di panggung utama even Tepung Sanak belum di mulai, selepas magrip itu, ratusan warga masyarakat sudah memadati jalanan yang indah berlampu obor ini.


Sego gerit, sego tiwul, ketan bubuk, cenil, horok-horok, serabi, jamu tradisional dan masih banyak gastronomi makanan serta jajanan tradisional yang di hadirkan oleh warga busu, yang membuat lapak-lapak sederhana di sepanjang jalan kampung tretek ini tidak sepi antrian warga. masyarakat berduyun-duyun memadati kampung yang mempunyai ikon treteg bambu ini. Tidak sampai 2 jam, semua dagangan warga busu ini sudah ludes habis. Banyak warga yang datang dan tidak kebagian merasakan makanan dan jajanan tempo doeloe malam itu. 


“Ramai sekali mas, saya aja tidak kebagian Cenil dan Tiwul tadi” ujar warga yang tidak mau menyebutkan nama ini. 


Dirinya datang bersama anak dan istri, yang malam itu masih berkesempatan merasakan jajanan tradisional Kontol Kambing.


Tegur saling sapa, tertawa, dan gembira terlihat dari para pengunjung yang mayoritas adalah warga Busu dan tetangga kampung, serta tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar Jabung. Pertunjukan seni oleh adik-adik Busu yang selama tiga hari sebelumnya di dampingi dan ajari oleh Mahasiswa UIN Maliki Malang menjadi pembuka ajang seni di panggung utama, yang sorenya telah di mulai dengan pertunjukan seni “Banteng Alit” dari Putra Surya Tejo, grup bantengan anak-anak kampung Tretek. Permainan angklung sangat memukau dan harmoni di mainkan anak-anak yang masih berusia TK sampai sekolah dasar ini menjadi pertunjukan malam itu.


https://www.kampungadat.com/2024/06/gastronomi-tradisi-dusun-busu-2-jam.html


Kesan menggembirakan juga terungkap dari warga yang berjualan, salah satunya adalah Mak Kas, yang malam itu menjual Sego Gerit. salah satu warga kampung Tretek ini mengatakan, dagangannya laris dan semuanya habis.


“Dari mulai habis magrip tadi sudah banyak yang beli, senang sekali pokoknya” ungkapnya gembira.


Susana semakin meriah, tak kala para mahasiswa yang selama 3 hari ini residensi dan berbagi di Kampung Tretek ini, berkolaborasi dalam tarian petilan Topeng Jabung. Malam itu., sebuah flasmob tari Jejer Jowo apik di mainkan di panggung utama yang bertempat di tengah rumah warga kampung Trerek. Selain penampilan dari anak-anak dan mahasiswa di panggung utama, pertunjukan musik keroncong oleh grup Senandung Swara Sideorejo juga menyerot perhatian warga, berlokasi di sebelah barat, tepat di pelataran rumah ketua RT.


Even budaya hari pertama Tepung Sanak malam itu, menjadi berkah bagi warga yang berjualan dan tentunya menggembirakan bagi pengunjung yang merasakan nostalgia masa lampau di selingi penampilan seni oleh warga. Dan tentunya nanti di hari kedua, sebagai puncak acara tepung sanak, sebuah grup musik bergenre World Musik “Arca Tatasawara” dan Njagong tresno bersama Gus Muham El Muqtadir akan menjadi satu suplemen kebahagian warga yang hadir.   


2 komentar:

  1. Saya datang siang hari sebelum segala pertunjukan dimulai. Sangat terasa ada semangat kebersamaan dan ketulusan warga kampung mengapresiasi apa yang mereka punya dan apa yang mereka bisa.
    Itulah modal paling penting sebuah kampung bisa memaknai dirinya untuk membangun kesejahteraan bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak, atas apresiasi dan kehadirannya di momen ini, kegiatan warga yg ingin terus melestarikan adat tradisi yang di miliki kampung tercinta. Maturnuwun sangat

      Hapus

Silahkan tingggalkan komentar sesuka Anda di kolom yang tersedia...


-Terimakasih telah berkunjung-