Gembira mengenakan Baju "sampah" di Kirap Alit dusun Busu





Kampung AdatHari itu, Minggu pagi suasana di dusun Busu, desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab Malang ini sedikit berbeda. Kondisi pandemic yang mengharuskan masyarakat dan dunia pendidikan “mandek” dan beralih ke media pembelajaran daring, akan tetapi pagi itu, banyak anak-anak dengan riang berlari dan bergurau dengan memakai pakaian seragam sekolah. Seperti bukan hari libur di minggu, anak-anak itu terlihat sangat antusias dan penuh kegembiraan memakai seragam merah putih dan menenteng bendera dengan tongkat kayu, (13/9/2020).

 

Puluhan murid sekolah itu bukannya akan melakukan aktivitas belajar disekolah, tapi mereka berkumpul di Kampung Tretek untuk meramaikan suatu hajat dari muda-mudi penggerak literasi di dusun Busu ini. Sebuah acara Seminar Kampung akan dilaksanakan di Balai Dusun Busu yang lokasinya berada di timur dari masjid Busu. Dengan tegap dengan sembari bergurau puluhan anak-anak berbaju seragam sekolah dasar ini berlatih berbaris dengan masing-masing anak memegang bendera. Dari kejauhan terlihat sangat unik dan mengundang banyak pasang mata warga kampung tretek untuk mendekat melihat apa yang dilakukan adik-adik itu.

 

Matahari semakin beranjak dewasa (tinggi), pukul 8.00 wib sinar cahaya kekuningan mentari itu menambah kegembiraan adik-adik yang masih penuh semangat dengan bendera-bendera itu. Tidak berapa lama, mulai berdatangan adik-adik lainnya, kebanyakan anak-anak perempuan. Kedatangan adik-adik perempuan ini tak kalah menariknya dari anak sekolah dengan bendera merah putih yang sejak awal sudah wira wiri di jalan kampung Tretek. Sorotan-sorotan kagum kepada adik-adik perempuan ini, hal ini lantaran apa yang dikenakan oleh sepuluh (10) adik-adik dari Gubuk Lereng Busu ini, mereka semua mengenakan pakaian warna-warni yang unik, iya pakaian kreasi daur ulang dari sampah plastic.

 

Pemandangan itulah yang menjadikan suasana pagi hari di jalan yang bersih dan berpaving itu meriah, gelak tawa renyah dari masyarakat, candaan adik-adik menambah kebahagiaan suasana yang damai di dusun Busu pagi hari itu. Singkatnya, adik-adik berseragam dan yang berpakaian daur ulang sampah itu nantinya akan melakukan “kirap Alit” yang akan dipandu oleh dua penari Topeng Jabung. Wuaah, sungguh akan menjadikan hari minggu yang sangat berbeda di awal September ini.

 

Cobalah kakak-kakak bayangkan, bagaimana gairah bahagia yang akan di dapatkan adik-adik yang bisa meramaikan dan menyumbangkan sedikit tenaganya untuk dusun tercintanya, hanya bermodal gembira dan tentunya bangun pagi lah.



 

Dan seperti yang telah tertulis di panflet pengumunan yang sudah tersebar di media social Facebook, grup-grup washap, dari mulut ke mulut bahwa pukul 8.30 wib acara Seminar Kampung di mulai. Benar juga, para pendamping adik-adik tadi mulai mengaba-aba mereka berkumpul di ujung jalan di bawah pohon Klengkeng, para pendamping ini semua berseragam dengan tulisan besar di pakainnya “Paguyupan Arek Busu”, wuah benar-benar pencerminan bahwa muda mudi dusun Busu selalu kompak. Bukan hanya mereka yang berserakam PAB, pendamping ini juga ada yang dari mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang loh, setahu kakak, mereka memang telah berapa minggu atau sebulan terakhir ini melakukan KKN (kuliah kerja nyata) di dusun ini, KKN memang istilah jadul buat mahasiswa yang turun kebawah (Turba) dan melakukan pendampingan ataupun membantu masyarakat dengan mengaplikasikan teori pengalaman mereka yang didapatkan selama makan bangku kuliah, itu pemahaman lama ya, nah kalau istilah barunya adalah PMM, kakak saja baru tahu loh PMM itu adalah Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat.

 

 

Dan mereka, 6 mahasiswa yang semua cantik dengan kerudung eeh jilbab ini ternyata adalah penggagas pakaian daur ulang sampah plastic yang di kenakan adik-adik itu loh. Wuah sangat brilian ide itu menurut kakak, setelah Tanya kanan kiri, ternyata konsep pakaian daur ulang ini adalah salah satu cara mbak mahasiswa untuk berkampanye pentingnya menjaga alam dari limbah sampah, khususnya sampah plastic.

 

Wuaah sangat dalam yang dilakukan oleh mahasiswa PMM Baktimu Negri ini, pinginnya kakak menulis lebih panjang tentang apa yang dilakukan mereka di dusun Busu ini, tapi mungkin akan kakak sambung ditulisan yang lain, kakak berfikir apa yang dikampanyekan mahasiswa ini sangat brilian dan memang permasalahan sampah sudah semakin akut di dusun ini, tapi nanti ya ditulisan lain, sekarang kita bergembira dulu saja dengan giat pagi minggu itu.

 

Gak percaya, kakak bahagia banget loh, akhirnya kakak bisa langsung menyaksikan Mbak mahasiswa yg cantik tadi itu sedang merapikan dan mengenakan pakaian daur ulang kepada adik-adik dihalaman rumah Pak De Kus (Abit). Dirumah itu juga sedang duduk Ibu Umul Azizah beserta suaminya di ruang tamu bersama Pak De Abit. Oh iya, Bu Azizah ini yang nantinya akan menjadi narasumber di Seminar Kampung bersama Ibu Wilda Fizriyani yang diadakan di Balai Dusun Busu, hal ini juga lantaran tahu kakak bertanya pada Ratna temen sekolahku yang juga pagi itu menjadi panitia seminar ini.

 

Oh ya, baru tahu kalau di ruang sebelah rumah Pak De Abita ada dua orang yang sedang berganti pakaian tari, kata Ratna lagi, mereka ini adalah kakak-kakak dari Republik Gubuk Jabung. “itu yang brewok ganteng namanya kak Majid, dan satunya itu Kak Faris mereka guru tari adik-adik disini dan Pembina dari Republik Gubuk” gitu kata ratna menjelaskan ke kakak. Tapi tahu gak, waktu ngomong itu muka ratna memerah loh. Bahagia kali ya punya guru tari ganteng-genteng gitu. Oh ya, suasana makin rame di halaman rumah itu, di tambah Pak De abit memberitahu kalau sudah harus jalan ke balai dusun. Adik-adik gembira mendengar itu, mbak Mahasiswa juga terlihat cekatan merapikan da nada yang mulai mengarahkan adik-adik melangkah berkumpul ke ujung jalan.



 

Tak disangka, di Klengkeng sudah berjajar rapi adik-adik berdiri dengan bendera merah putih tadi, dan adik-adik perempuan yang mengenakan pakaian daur ulang sampah ini menyusun barisan di depannya. Penari topeng berpakaian merah tadi langsung melangkah ke depan barisan loh, ooh ternyata menjadi pembuka jalan di kirap alit yang aku baca di panflet acara yang aku dapat di grup fb. Tak berapa lama sih eeh tahunya Ibu pemateri sudah ada disitu bersama Pak De Abit. Dan kakak baru sadar bahwa kirap alit ini bagian dari seminar kampung, karena tahu Ibu pemateri ikut dalam kirap berjalan ke balaidusun. Jadi teringat buku yang pernah kakak baca, dalam buku itu bercerita bahwa dahulu seorang putri ataupun orang penting di kerajaan, kalau dalam lawatan atau bepergian selalu di kawal dengan kirap prajurit begitu.

Entah siapa yang mengkonsep acara ini, yang jelas kakak yakin bahwa kirap adik-adik ini adalah suatu penghargaan dan apresiasi kepada Ibu pemateri, ya di muliakan seperti putri kerajaan yang pernah aku baca itu.

 

Dani teman bermainku dari kampung kidul (selatan) dan cak Kin terlihat jeprat jepret mengabadikan momen adik-adik yang sudah mulai berjalan, sungguh ramai sekali pokonya minggu pagi itu. Banyak masyarakat dan tetangga yang menyaksikan dengan teriak-teriak atau memanggil adik-adik yang sedang kirap. Kakak mengikuti rombongan ini dengan melangkah hati-hati karena jalan paving saat itu seperti tidak muat, dan akhirnya kakak berjalan minggir sekali.

 

Sampai di depan warung Pak Karneli suara dentuman music terdengar keras, dan ternyata itu dari mobil miniature yang diseret. Aku kira mereka ini sedang berkegiatan sendiri dengan mobil dan sound system, istilah terkenalnya sih cek sound. Tapi yang membuat aku semakin kagum dan kaget, ternyata…tahu gak, miniature mobil sebesar setengah dari ukuran gerobak itu juga menjadi bagian pengiring music bagi rombongan kirap.

 

Duuh, aduh pokonya seneng deh lihatnya, kakak tahu kalau mobil kecil itu memang ikut kirap lantaran alunan gamelan dari soundnya ternyata langsung di tangkap oleh kakak penari topeng berpakaian merah itu. Pokonya suasana jadi makin meriah, dan kakak sempat terpaku loh melihat kedua penari itu, sangat gagah..gagah banget seperti pemain pemain film Superhero dari amerika loh. Kedua penari berjalan didepan disusul iringan adik-adik membawa bendera dan diteruskan adik dengan pakaian plastic, rombongan ini mencuri perhatian warga BUsu yang pagi itu banyak beraktifitas di luar. Jalan aspal didepan masjid jadi macet oleh keriangan adik-adik. Cahaya sinar mentari pagi itu menambah jumlah rombongan kirap, bayang bayang adik-adik tercetak jelas di aspal yang mulai panas itu.



 

Ratna, Lisa, Dina dan lainnya semua terlihat sibuk dengan makin dekatnya rombongan kirap yang mengawal ibu pemateri. Dan betul sekali, semua teman yang kesemua memakai kaos bewarna biru dongker dengan gambar peta Busu di punggung ini, banyak berkumpul di depan balai dusun, mereka menyongsong rombongan adik-adik yang sedang kirap.


Oh ya lantaran kakak tidak bermasker dan pagi itu sedang harus ke pasar, maka kakak tidak mengikuti hingga adik-adik dan rombongan kirap masuk ke balai dusun busu. Kakak kembali ke kampung treteg mengambil sepeda motor dan langsung cus ke pasar Jabung. Sampai disini ya ceritaku tentang kegembiraan di dusun Busu pada minggu kemarin, mungkin nanti kalau sempat dan ketemu Pak De abit, kakak akan banyak Tanya tentang acara Seminar Kampung dengan dua narasumber dari kota malang itu. Terima kasih busu, yang minggu kemarin membahagiakan dengan kirap adik-adik berpakaian dari sampah itu. Kakak yakin kok, pakaian dari sampah itu akan menjadi satu pelajaran, bahwa sampah bisa menjadi manfaat atau mudhorot tergantung kita menyikapinya. Mau memanfaatkan atau membuangnya ke sembarang tempat. Terima kasih..


penulis adalah warga busu, yang sekarang sedang menempuh dunia DO dan menjadi Petani Keren

0 Comments:

Posting Komentar