Puisi yang memukau dalam even Tepung Sedulur ing Tahun Anyar - KECAMATAN JABUNG | KAMPUNG ADAT | DUSUN BUSU MALANG | KABUPATEN MALANG
Kampung adat jaman dulu dimana ada busu pada masa lalu tanpa adanya penerangan. dan merasakan keadaan kampung masa itu
Pawai wayang orang di kampung adat
Penampilan para pemain ludruk organik yang pemainya dari warga kampung dan basik mereka bukan pemeran seni
Pertujukan wayang kulit oleh dalang cilik.

Selasa, 07 Januari 2020

Puisi yang memukau dalam even Tepung Sedulur ing Tahun Anyar




Even budaya Tepung Sedulur ing Tahun Anyar yang diselenggarakan di Kampung Treteg, Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kabupaten Malang berlangsung sangat meriah. Dengan penerangan seadanya bisa memukau ratusan pengunjung yang hadir. Spotlight manual dengan menggunakan senter menjadi satu kreatifitas tersendiri dimalam itu, sabtu, 4 Januari 2020.

Banyak penampilan yang disuguhkan dipanggung terbuka dengan background sesek anyaman bambu ini, dari Tarian Srikandi, Tari Tradisi Beskalan, Tari Dolanan, Bang Bang Raino, bahkan music etnik dari Gubug Panji dan Kampung Cempluk.

Dari banyak penampilan itu ada sebuah karya yang mendapat banyak apresiasi tepuk tangan di banding dengan lainnya. Penampilan itu tak lain pembacaan puisi oleh dua adik-adik dari Gubug Kampung Treteg, yaitu Audina Wahyuning Utami dan Amelia Uswatun Hasanah. Apresiasi yang diberikan begitu meriah mungkin salah satunya adalah judul dan isi puisi yang begitu mendalam, yaitu puisi bertema Ibu.

Awal rencana pembacaan puisi ini dibarengi dengan teater yang mengiringi pembacaan puisi, namun karena yang akan melakukan teetering tidak hadir, maka konsep pembacaan bersama teater ditiadakan. Hal ini diketahui dari Sam Inang Dongkel yang beberapa hari sebelum acara Tepung Sedulur ing Tahun Anyar mendampingi kedua adik pembaca puisi ini.

“tadinya ingin penampilan puisi dibarengi teater, dengan dua ligting yang masing-masing menerangi kedua pembaca puisi dari arah yang berbeda, melia disebelah kiri dekat perahu besar, dan Dina disebelah kanan dekat topeng besar, tapi karena Angga tidak ada ya sudah mengalir saja” ujar Inang Dongkel disela-sela acara.

Meskipun keluar dari konsep awal, penampilan dua gadis cantik ini tetap memukau dan mendapatkan apresiasi yang gemuruh dari para penonton yang mayoritas ibu-ibu dan kaum perempuan ini. Oleh karena itulah, demi menghargai karya kedua adik-adik maka kami mengabadikan karya puisi ini dalam artikel ini, dan inilah puisi bertema Ibu tersebut.




Ibu
Karya: Amelia Uswatun Hasanah

Ibu..
Terima kasih atas jasamu
Kau asuh aku
Kau bimbing aku
Kau menyayangiku
Dengan sepenh hatimu
Terutama terima kasih atas doamu
Yang selama ini kau ucapkan selesai sholatmu
Maafkan aku, yang selama ini aku berbuat salah padamu
Dan sering membuatmu jengkel dengan ulahku
Aku terkadang mengabaikan nasehatmu
Padahalaku tahu itu demi kebaikannku
Tapi kau tetap sabar mengahadapiku
Pada setiap langkah yang ku tuju
Seperti matahari yang terbit dilangit timur yang biru
Menembus jendela kamarku
Seperti berkata, bangunlah, aku akan terus bersamamu
Begitu juga dengan ibu
Cintanya tak akan pernah surut
Kasih sayangnya tak akan pernah larut
Walau aku sering tidak menurut
Terimakasih ibu


Ibu…
Karya : Audina Wahyuning Utami

Ibu..
Rino kelawan wengimu
Gerah ngeluhmu
Payah keselmu
Mung kanggo aku anakmu
Tumeko ngandung nganti tumeko aku gede
Aku tansah ngawe loro atimu buk.
Tansah nggawe mrinone batenmu
Opo kok sek onok pangapuro kanggeku
Opo kok sek banjerake welasmu kanggo aku anakmu
Aku njaluk sepuro yo bu
Nganti seprene horong isok ngenakno pribadimu
Mung dungo lan dungo seng isok tak aturake
Ing saban waktuku
Mugi Allah Gusti Kang Akario Jagad
Paring piwelas kebecikkan kanggomu ibu ku
Matur nuwun ibu ku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tingggalkan komentar sesuka Anda di kolom yang tersedia...


-Terimakasih telah berkunjung-