Untuk Yang Ingin Berpikir Kedepan - KECAMATAN JABUNG | KAMPUNG ADAT | DUSUN BUSU MALANG | KABUPATEN MALANG
Kampung adat jaman dulu dimana ada busu pada masa lalu tanpa adanya penerangan. dan merasakan keadaan kampung masa itu
Pawai wayang orang di kampung adat
Penampilan para pemain ludruk organik yang pemainya dari warga kampung dan basik mereka bukan pemeran seni
Pertujukan wayang kulit oleh dalang cilik.

Senin, 07 Oktober 2013

Untuk Yang Ingin Berpikir Kedepan

Ini adalah tentang buku yang mungkin bisa mengajak kita untuk berfikir maju dan menjadi kaya. Untuk diketahui saja, buku ini merupakan buku favorit Saya yang pertama di urutan yang kedua. Judul bukunya adalah The Cashflow Quadrant. Bagi yang belum membacanya Saya beri sedikit cuplikan dari buku ini yang menurut saya paling keren isinya, (boso Malang'e mbois ker). Tanpa banyak kata langsung saja di simak.


KAU INGIN JADI APA KALAU SUDAH BESAR?

Buku ini merupakan bagian II dari buku saya (penulis bukunya, bukan yang punya blog ini) Rich Dad Poor Dad. Bagi Anda yang mungkin belum membacanya. Buku itu tentang berbagai pelajaran berbeda yang diberikan kedua ayah saya dalam hal uang dan pilihan hidup. Yang satu adalah ayah asli saya dan yang lain adalah ayah sahabat saya. Yang satu berpendidikan tinggi dan yang lain dropout SMU. Yang satu miskin dan yang lain kaya.
            Setiap kali saya mendapat pertanyaan, “Kau mau jadi apa kalau sudah besar?”
            Ayah saya yang berpendidikan tinggi tapi miskin selalu mengatakan,
            “Sekolah, dapat nilai bagus, dan lalu cari pekerjaan yang aman dan menjamin.”

            Ayah saya yang kaya, tapi tidak berpendidikan, sebaliknya, menawarkan saran yang sangat berbeda. Ia menganjurkan,
            “Sekolah, lulus, bangun usaha, dan jadilah penanam modal yang berhasil.”
Buku ini tentang proses mental, emosional, dan pendidikan yang saya jalani dalam mengikuti saran ayah kaya saya.

UNTUK SIAPA BUKU INI DITULIS
Buku ini ditulis untuk orang-orang yang siap berganti kuadran. Buku ini khususnya untuk para individu yang sekarang berada dalam kategori “E” dan “S”, dan yang berniat menjadi “B” atau “I”. Buku ini untuk mereka yang siap bergerak maju meninggalkan keamanan pekerjaan dan mulai meraih keamanan finansial. Ini bukan jalan hidup yang mudah, tapi imbalan di akhir perjalanan akan setimpal dengan usaha yang kita curahkan. Ini adalah perjalanan menuju kebebasan finansial.
            Ayah Kaya mengisahkan sebuah cerita sederhana ketika saya berusia 12 tahun, cerita yang membimbing saya menuju kekayaan besar dan kebebasan finansial. Cerita ini merupakan cara Ayah Kaya menjelaskan perbedaan antara sisi kiri CASHFLOW Quadrant, kuadran “E” dan “S”, dengan yang kanan atau kuadran “B” dan “I”. Inilah kisahnya:
            “Zaman dahulu kala ada sebuah desa kecil yang indah. Tempat itu sangat menyenangkan, sayangnya di sana ada sebuah masalah. Desa itu tak punya air jika hujan tidak turun. Untuk menuntaskan masalah itu selamanya, para tetua desa memutuskan menawarkan kontrak bagi pengiriman air harian ke sana. Dua orang mengajukan diri melakukan tugas itu dan para tetua memberikan kontrak itu kepada mereka berdua. Mereka merasa bahwa persaingan akan menekan harga hingga tetap rendah dan menjamin persediaan cadangan air.
            Orang pertama yang mendapat kontrak itu, Ed, langsung berlari pergi, membeli dua ember baja dan mulai berlari bolak-balik menyusuri jalan setapak menuju danau yang jaraknya satu setengah kilometer dari desa. Ia langsung mulai menghasilkan uang saat bekerja keras dari pagi hingga petang, mengangkut air dari danau dengan kedua embernya, Ia menuangnya ke dalam tangki penyimpanan terbuat dari beton yang telah dibangun penduduk desa itu. Setiap pagi ia harus bangun sebelum yang lain supaya bisa memastikan ada cukup air bagi penduduk desa saat mereka memerlukannya. Ia harus bekerja keras, tapi ia sangat senang karena bisa menghasilkan uang dan karena mendapatkan salah satu kontrak eksklusif dalam bisnis penyediaan air itu.
            Pemegang kontrak kedua, Bill, beberapa saat menghilang. Ia tidak terlihat selama berbulan-bulan, yang membuat Ed sangat bahagia karena ia jadi tidak mempunyai saingan. Ed mendapatkan semua pemasukan.
            Bukannya membeli dua ember untuk bersaing dengan Ed, Bill membuat rencana usaha, mendirikan perusahaan, mendapatkan empat penanam modal, mengangkat seorang presiden eksekutif untuk melakukan pekerjaannya, dan kembali enam bulan kemudian dengan kru bangunan. Dalam waktu satu tahun timnya telah membangun jaringan pipa baja antikarat bervolume besar yang menyambungkan desa dengan danau.
            Pada pesta pembukaan, Bill mengumumkan bahwa airnya lebih bersih daripada air Ed. Bill tahu ada banyak keluhan tentang kotoran dalam air Ed. Bill juga mengumumkan bahwa ia bisa memasok air untuk desa selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Ed hanya bisa mengantarkan air pada hari kerja...  ia tidak bekerja pada akhir pekan. Lalu Bill mengumumkan bahwa ia akan memberikan harga 75% lebih murah daripada Ed untuk sumber airnya yang berkualitas lebih tinggi dan lebih bisa diandalkan. Penduduk desa bersorak sorai dan langsung berlari ke kran di ujung saluran pipa Bill.
            Supaya bisa bersaing, Ed langsung menurunkan harganya sebanyak 75%, membeli dua ember lagi, menambahkan penutup pada ember-embernya, dan mulai mengangkut empat ember satu kali jalan. Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, ia mempekerjakan kedua anak laki-lakinya untuk membantunya melakukan giliran kerja malam dan pada akhir pekan. Ketika mereka pergi bersekolah di perguruan tinggi, ia berkata pada mereka,
            ‘Cepatlah kembali karena suatu saat bisnis ini akan menjadi milik kalian.’
            Entah kenapa, setelah lulus perguruan tinggi, kedua putranya tak pernah kembali. Akhirnya Ed mendapat masalah-masalah kepegawaian. Serikat buruh menuntut kenaikan gaji, peningkatan tunjangan, dan ingin anggotanya hanya mengangkut satu ember sekali jalan.
            Bill, di lain pihak, sadar bahwa jika desa itu membutuhkan air berarti desa-desa yang lain juga membutuhkannya. Ia menulis ulang rancangan bisnisnya dan pergi untuk menjual sistem penyaluran air bersihnya yang berkecepatan tinggi, bervolume besar, dan berbiaya rendah ke desa-desa di seluruh dunia. Ia hanya mendapat keuntungan satu penny untuk setiap ember air yang disalurkan, tapi ia mengirimkan miliaran ember air setiap hari, dan semua uang itu mengalir ke dalam rekening banknya. Bill telah membangun saluran pipi untuk mengalirkan uang bagi dirinya sendiri selain untuk menyalurkan air ke desa.
            Bill hidup bahagia selamanya, dan Ed bekerja keras seumur hidupnya dan selalu mempunyai masalah finansial. Tamat.”
            Kisah tentang Bill dan Ed itu telah membimbing saya selama bertahun-tahun. Cerita itu membantu saya pada proses pengambilan keputusan dalam hidup. Saya sering bertanya kepada diri sendiri,
            “Apakah aku membangun saluran pipa atau mengangkuti ember?”
            “Apakah aku bekerja dengan keras atau bekerja dengan cerdik?”
            Dan jawaban untuk semua pertanyaan itu telah membuat saya bebas secara finansial.
            Dan itulah isi buku ini. Buku ini tentang apa yang diperlukan untuk menjadi “B” dan “I”. Buku ini untuk mereka yang sudah lelah mengangkuti ember dan siap membangun saluran pipa agar uang bisa mengalir ke dalam kantong mereka. . .  bukan ke luar kantong mereka.

                                                 ----------------------------------------



Nah, itu adalah sedikit kutipan cerita dari bagian buku karya Robert Kiyosaki  yang  menurut saya cukup masuk akal dan mengajarkan berfikir ke depan. Kalo Anda ingin mengerti lebih jauh lagi tentang buku ini silahkan beli dong, gak mahal kok 50ribu masih dapat kembalian. Kalo malas beli ya silahkan datang ke rumah Saya , nanti Saya pinjamkan gratis gak usah mbayar. konco dewe ae lo, mosok katene gak digratisno. oi,.

Semoga kehidupan Anda semua memperoleh keberkahan dan lebih dari cukup. Amiin.

 



 

1 komentar:

Silahkan tingggalkan komentar sesuka Anda di kolom yang tersedia...


-Terimakasih telah berkunjung-