JABUNG, MALANG – Di sudut pelataran Kampung Tretek Dusun Busu, Desa Slamparejo, sesosok paruh baya sedang asik dengan kuas dan cat, dengan lugas tangannya menyaput guratan sebuah wajah yang “seram” pada pelapah Kelapa. Sosoh itu tak lain adalah Mbah Pit, salah satu tokoh sepuh Kampung Tretek. Mbah Piet siang itu sedang membuat Tetek Melek, salah satu pengetahuan tradisional leluhur dalam upaya Tolak Balak.
Yang menarik adalah inisiatif Mbah Piet untuk membuat Tetek
Melek ini yaitu untuk dihadirkan dalam gelaran Festival Busu Jaman Biyen
(BJBfest2026) yang akan di gelar tanggal 10-12 april 2026 nanti. Kehadirannya
di gelaran Festival Busu Jaman Biyen (BJBfest) 2026 bukan sekadar
pajangan estetis, melainkan upaya menghidupkan kembali memori kolektif tentang
pengetahuan tradisional penolak bala.
Bagi generasi muda saat ini, Tetek Melek mungkin tampak asing atau sekadar kerajinan tangan biasa. Namun, bagi sesepuh Dusun Busu, benda ini adalah perlambang kekuatan dan doa masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit, terutama saat terjadi pagebluk (wabah penyakit) di masa lampau.
Secara harfiah, "Melek" dalam bahasa Jawa berarti
terjaga atau waspada. Dahulu, Tetek Melek diletakkan di depan rumah atau di
gerbang desa sebagai sarana tolak bala. Pengetahuan tradisional ini
mengajarkan bahwa untuk menghadapi musibah atau wabah, masyarakat harus tetap
waspada dan "terjaga" secara lahir maupun batin.
"Tetek Melek ini adalah kearifan lokal yang hampir
punah. Dahulu, orang tua kita menggunakannya untuk mengusir aura negatif atau
penyakit yang masuk ke desa. Bahannya sangat sederhana, hanya dari pelepah
kelapa yang ada di sekitar kita, tapi maknanya sangat dalam tentang
perlindungan dan kewaspadaan," ujar Mbah Piet, ketika diminta alasan
membuat Tetek Melek
Era saat ini tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan
generasi milenial dan Gen Z terhadap fungsi-fungsi magis-sosial dari
benda-benda tradisi seperti Tetek Melek. Banyak anak muda yang tidak lagi
mengenali bentuk apalagi maknanya.
Dalam rangkaian BJBfest 2026 yang didukung oleh Dana
Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI, Tetek Melek dipamerkan kembali
secara luas. Tidak hanya dipajang, festival ini juga memberikan ruang bagi
pengunjung untuk berinteraksi dan mempelajari proses pembuatannya.
"Kami tidak ingin pengetahuan ini mati di tangan generasi sekarang. Dengan menampilkannya di BJBfest, kami ingin memberi tahu anak-anak muda bahwa leluhur kita punya sistem pertahanan diri yang cerdas dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk saat menghadapi pagebluk," Ujar Kusnadi disela-sela kesibukan Panitia menyongsong terselenggaranya Festival BJBfest2026.
Penempatan Tetek Melek di sepanjang rute festival bersanding
dengan lapak-lapak gastronomi dan panggung Ludruk Organik menciptakan
suasana "Jaman Biyen" yang otentik. Hal ini selaras dengan tema besar
festival tahun ini, yakni "Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat".
Kusnadi, menambahkan bahwa menghadirkan kembali Tetek Melek
adalah cara warga untuk bersyukur karena telah melewati masa pandemi yang sulit
beberapa tahun lalu. "Ini seperti mengingatkan kita kembali, bahwa setelah
pagebluk Covid kemarin, kita harus tetap melek (waspada) dan
terus bergotong royong agar desa tetap aman," tuturnya.
Melalui BJBfest 2026, Tetek Melek kini kembali menemukan
"panggungnya". Ia bukan lagi sekadar pelapah kelapa yang terbuang,
melainkan saksi bisu keuletan budaya masyarakat Jabung dalam menjaga harmoni
dan menolak segala bentuk marabahaya di tanah adat mereka.



0 Comments:
Posting Komentar