TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KOTA BATU

Pulau Jawa merupakan wilayah Negara Indonesia yang mempunyai peradapan panjang dan Kuno. Pulau Jawa terbentang dari Banyuwangi hingga Banten ini dikenal sejarahnya akan banyak Kerajaan dan peradapan kuno, dan oleh karena itu berbagai tradisi di masyarakatnya bisa dilihat hingga kini. Banyak daerah mempunyai kesamaan tradisi serta kebiasaan yang sama, tapi tak jarang beberapa daerah mempunyai tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya. Tradisi ini merupakan kebiasaan satu masyarakat sebagai bentuk rasa sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kebiasaan turun temurun dalam bermasyarakat ini menjadi satu tradisi yang ada dalam satu kelompok masyarakat, terutama di Jawa.



Tradisi ini akhirnya menjadi adat istiadat yang berlaku dikelompok tersebut, katakan adat-istiadat Jawa atau Batak, ataupun Sunda. Dari kebiasaan, menjadi tradisi yang akhirnya membudaya diwilayahnya. Secara teori Kebudayaan dikatakan hasil dari cara fikir, gagasan yang menghasil norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat. Gagasan dan hasil fikir manusia ini lambat laun menumbuhkan norma adat-itiadat bahkan hukum yang berlaku dalam kelompok masyarakat tersebut. Disetiap daerah mempunyai kebiasaan adat dan budaya sendiri, tapi tidak jarang memang mempunyai kesamaan, kesamaan ini bisa disebabkan banyak factor, semisal daerah tersebut adalah daerah berkumpulnya multi etnis, disitu akan banyak tradisi percampuran dari tiap etnis, yang mana hal ini semakin memperkaya adat istiadat dan tradisi yang ada diwilayah tersebut.

Masyarakat Jawa yang erat dengan sukuran (rasa sukur), dalam setiap nafas hidupnya menjadikan ritual rasa sukur ini menjadi satu tradisi yang turun temurun selalu dilakukan oleh masyarakat Jawa. Mulai Kelahiran hingga kematian, kebiasaan dalam pertanian, hingga mendirikan satu bangunan, Kebiasaan dalam mendoa dan berdoa masyarakat Jawa menjadi satu tradisi yang begitu arif dalam kehidupan bersosial dalam masyarakat yang majemuk.


Kota Batu, Kota wisata yang berada di barat Kota Malang ini juga mempunyai kesamaan tradisi Jawa dalam Masyarakatnya. Kearifan lokal ini hingga kini masih terjaga dengan baik di 24 desa yang tersebar di wilayah Batu. diera modern ini kearifan dan tradisi lokal masyarakat Jawa khusunya di Batu mulai mengalami degradasi. Pengikisan tradisi ini tak lain pesatnya laju budaya luar hingga dari masyarakatnya sendiri yang mulai melupakan tradisi lelihur ini.


Tradisi yang mulai sedikit ditinggalkan salah satunya adalah tradisi dalam pernikahan, tidak sedikit acara perkawinan menghilangkan tradisi “Temu” secara keseluruhan saat resepsi pernikahan. Tradisi temu dalam adat jawa di sebut dengan “Loro Pangkon”. Loro pangkon sendiri adalah jalannya tradisi temu dari awal hingga akhir. Di sini banyak filosofi yang terkandung dalam ritual tradisi Loro Pangkon sendiri.


yang dimaksud adalah saat pertemuan kedua mempelai yang diiringi oleh gending langgam jawa. Dan dalam pertemuan tersebut didalam rombongan mempelai pria membawa barbagai macam peralatan dapur yang didesain dalam panggulan (ongkek). Dan selama perjalanan ke rumah mempelai, biasanya ada satu tradisi lepas ayam ditiap melewati jembatan sungai, tradisi ini sekarang mulai banyak tidak dipakai.


Dari ritual pernikahan ini saja banyak tradisi yang mengiringinya dengan khiasan maksud-maksud kebaikan dalam ikatan tersebut, mengenai filosofi dan arti tiap benda yang ada dalam acara serahan perkawinan ini akan di kupas lebih dalam di bab selanjutnya. Itu hanya satu contoh saja, tradisi yang kadang dipakai kadang di tiadakan karena alasan biaya dalam resepsi satu pernikahan di era sekarang.


Wilayah Batu termasuk wilayah yang masyarakatnya sangat teguh dalam menjalankan tradisi Jawa. Meski begitu, lestarinya tradisi di wilayah ini juga harus mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat dan pemerintah sendiri. Diera modernisasi dengan mudahnya masyarakat mengakses segala macam pengetahuan modern, menjadikan sedikit banyak mempengaruhi pola pikir masyarakat. Dengan itu bisa dikawatirkan akan banyak tradisi dan kearifan lokal yang akan terkikis oleh budaya luar.


Wilayah Bumiaji,Pendem,Bulukerto, Junrejo, Gunung sari dan lainnya adalah daerah yang sampai saat ini masih mempertahankan kearifan ini. Hal ini bisa dilihat dari luas daerahnya yang masih banyak lahan persawahan dan ladang. Karena dengan melihat banyaknya masyarakat yang masih mempertahankan pertanian bisa dipastikan kearifan dalam menjaga alam didaerah tersebut masih kental. Dan otomatis daerah tersebut selalu melaksanakan tradisi jawa yang secara turun temurun dijalankan masyarakat pertanian diwilayah batu. Tradisi yang menyertai dan dilakukan selama masa bertani diwilayah batu juga bermacam-macam. Dari mulai tradisi sebelum panen hingga setelah panen.


Tradisi dan kearifan lokal yang ada diwilayah di Kota Batu ini menjadi satu daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar untuk melihat, merasakan dan menikmatinya tiap ada gelaran tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Batu. tradisi sebagai daya tarik wisatawan memang pantas untuk tetap dilestarikan dan terus dipelajari dan kembangkan oleh masyakat Batu dan sekitanya.


Dan dalam buku ini sedikit akan di gambarkan apa saja tradisi Jawa yang ada diwilayah Batu dan sekitarnya, tradisi yang turun temurun diugemi dan dijalankan oleh masyarakat Batu. Sungkeman, Brokohan, hingga ritual kematian masih ada diwilayah Kota penghasil apel ini. Semoga bisa menjadi satu acuan pembelajaran pembaca dalam mendalami tradisi dan kearifan lokal Kota Batu ini.

0 Comments:

Posting Komentar