Tempo Dulu Masih Ada dan Terasa Nyata


Hari itu sabtu tanggal 15 Juli 2017 di dusun Busu. Mulai pagi hari di kampung ini para warga sedang menyiapkan dan menata tempat. Ada yang menyempurnakan latarnya, membuat damar, menyiapkan obor, dan lain-lainnya.

Persiapan ini dilakukan untuk acara tepung sanak atau halal-bihalal yang dikemas dalam suasana tempo dulu. Antara jaman tahun 70-80an. Di mana pada tahun tersebut, listrik belum masuk Dusun Busu ini. Sehingga pada saat itu sumber penerangan masih menggunakan damar, obor, teng, dan strongking. 
Mompa Damar Strongking



Pada sore harinya  juga ada permainan-permainan tradisional yang biasa dilakukan oleh anak-anak pada jaman dulu. Seperti lompat tali, nekeran, jangji, bandulan, banggalan gimeran, dan lain-lain. Bukan hanya anak-anak yang memainkannya, orang dewasapun ikut larut dalam permainan ini. Mereka kembali bernostalgia dengan permainan yang begitu akrab pada masa kecilnya dulu.

Matahari sore perlahan mulai tenggelam. Suasana senja di kampung ini seolah membawa kita ke masa-masa dulu. Tidak ada lampu, tidak ada bunyi sepeda motor maupun mesin-mesin. Yang terdengar adalah suara Adzan Maghrib dari masjid Baiturrohman. Suasana hening, para penduduk desa menunaikan kewajibannya, Sholat Maghrib.

Setelah Maghrib, speaker corong mulai menampakkan suaranya. Masyarakat mulai menyiapkan suguhan makanan khas penduduk tempo dulu di pelataran rumahnya. Seperti singkong kukus, nasi jagung sambal orek, sredek, ubi kukus, dan masih banyak makanan tradisonal jaman dulu yang disajikan warga. Suguhan yang sederhana sekali.




Lagu lagu lawas tahun 70-an yang diperdengarkan lewat speaker corong menambah suasana tempo dulu menjadi makin terasa. Rumah-rumah wargapun petang, hanya sedikit terlihat penerangan dari damar Ublik. Bisa kita bayangkan seperti kalau pada masa sekarang ini ada lampu mati di malam hari, dan seperti itulah suasana yang tergambar di pelataran kampung ini, gelap.

Obor-obor di pinggir pelataran jalan mulai menyala, sedikit menerangi malam syahdu yang mempertemukan rindu orang-tua kita pada jamannya dulu.



Tamu-tamu mulai berdatangan, mereka disambut oleh suasana tempo dulu. Merasakan sensasi melewati jembatan yang terbuat dari bambu untuk menuju lokasi acara. Jembatan ini merupakan penghubung antara jalan raya dan kampung yang dipisahkan oleh curah atau sungai jurang.


Jembatan atau Treteg


Pengunjung dan tamu dipersilahkan menikmati suguhan-suguhan yang telah disediakan oleh warga di pelatarannya. Suguhan sederhana dengan rasa yang biasa saja, tetapi terasa sangat nikmat karena suasana dan keramah-tamahan warga yang tulus berbagi dan menyapa. 

Sambutan-sambutan disampaikan oleh para tetua desa di pelataran, permainan dan tari-tarian dipertunjukkan, doa dipanjatkan. Tidak ada panggung, tidak ada pagar pemisah antara papan pertunjukan dan penonton. Semuanya berada pada pijakan tanah yang sejajar. Penerangan menggunakan damar strongking. Menambah suasana seperti pertemuan jaman 70an. 


Tamu dan pengunjung dipersilahkan keliling kampung. Merasakan suasana tempo dulu yang sungguh merasuk ke dalam relung jiwa. Mengingatkan kita atau orang tua kita akan kehidupan di jaman itu, berangkat mengaji membawa obor, melewati jalanan yang sepi di persawahan. Mendengar sapaan-sapaan tulus penuh keramahan dari warga sekitar. 

Kita juga menjumpai tempat nginang, ada tempat sandingan beraroma dupa dan kemenyan yang masih umum digunakan pada masa itu.


Ada banyak pertunjukkan dilakukan di berbagai pelataran dan sudut yang kita jumpai. Ada tari, tabuh patrol, egrang, karinding dan lainnya.

Karinding juga menjadi sebuah pertunjukkan yang sangat apik untuk disaksikan malam itu. Suara suara nyanyian, musik, dan drama teater yang mereka suguhkan membuat kita terbawa suasana menjadikan malam tempo dulu ini menjadi sangat nyata. 

Tidak ada sebuah kemewahan yang tersaji di sini. Semuanya sangat-sangat sederhana. Pelataran-pelataran adalah tempat favorit bagi semua orang. Bercengkrama dengan kawan-kawan dalam suasana damai nan remang.

Masih banyak cerita-cerita lain yang masih belum tertuang dalam tulisan ini. Dan yang pasti acara ini telah berhasil membuat kita merasakan dan menegaskan bahwa yang tradisi masih bisa hidup di jaman ini.



" Pada malam itu sungguh hati saya bergetar, merasakan suasana seolah-olah saya berada pada malam di mana orang tua saya dulu masih anak-anak, merasakan kegelapan malam di setiap harinya. Berjalan jauh mencari ilmu dengan membawa obor. Melewati jalanan gelap dan sepi di keheningan malam. 
Sungguh malam itu sangat berkesan. Terimakasih Dusun Busu. Begitu banyak cerita yang tersimpan. Dan juga jatuhnya air mata kebahagiaan di dalam kesederhanaan. "

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi.
Kalau ada umur yang panjang, insyaAllah kita berjumpa di Busu lagi.








0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tingggalkan komentar sesuka Anda di kolom yang tersedia...


-Terimakasih telah berkunjung-