Desa Kemantren di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, memiliki jejak sejarah yang panjang. Menurut penuturan para sesepuh, kawasan ini dahulu berupa hutan rimba (alas) yang kemudian dibuka sedikit demi sedikit oleh para pendatang. Salah seorang tokoh pembuka wilayah dipercaya dimakamkan di daerah Alaskulak, tempat yang kemudian dianggap keramat dan dikenal sebagai situs “Petren” atau “Dayangan”.
Seiring berjalannya waktu, hutan itu beralih fungsi menjadi permukiman. Aktivitas ekonomi awal masyarakat Kemantren banyak bertumpu pada hasil hutan. Penduduk melakukan kulak hasil hutan, yaitu membeli dan menjual kembali kayu, hasil bumi, maupun tanaman hutan. Dari aktivitas inilah lahir identitas lokal yang melekat pada asal-usul Desa Kemantren.
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kehidupan masyarakat berlangsung sederhana. Tekanan ekonomi dan sosial membuat warga harus bertahan dengan kondisi serba terbatas. Rumah-rumah masih berdinding gedek (anyaman bambu), sedangkan penerangan malam hari hanya memanfaatkan minyak dari pohon jarak. Meski begitu, masyarakat tetap menjaga budaya dan tradisi leluhur.
Salah satu tradisi penting adalah bersih desa serta ritual sakral bernama “tandakan”, sebuah tarian spiritual yang pernah populer terutama di masa kepemimpinan Petinggi Pudjan. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus pengikat persaudaraan warga.
Dalam hal kepemimpinan, Desa Kemantren sejak dahulu dipimpin oleh tokoh-tokoh asli masyarakat setempat. Mulai dari Kyai Marsuin di awal abad ke-20 hingga H. Mulyono yang menjabat sebagai Kepala Desa periode 2019–2025, estafet kepemimpinan tersebut mencerminkan kuatnya ikatan antara masyarakat dan tanah kelahiran mereka.
Hari ini, Sejarah Desa Kemantren Malang menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat. Perjalanan panjang dari hutan belantara, masa penjajahan, hingga menjadi desa yang terus berkembang, menunjukkan bahwa Desa Kemantren tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk generasi mendatang.
0 Comments:
Posting Komentar